Logo Kabarpemerintah
Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Hilirisasi Jadi Jalan Indonesia Menuju Kemakmuran. Komitmen Pendidikan Nasional, Presiden Prabowo Subianto Targetkan Sekolah Modern dan Berbasis Teknologi Rampung 2028. Dari MBG hingga Koperasi Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto Dorong Arus Ekonomi Kembali ke Rakyat.

Terima Aduan Mahasiswa, Mentan Amran Langsung Bergerak Tindak Dugaan Mafia Pertanian

Ditulis oleh herman - 07 May 2026 23:52

Terima Aduan Mahasiswa, Mentan Amran Langsung Bergerak Tindak Dugaan Mafia Pertanian

FOTO: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman diskusi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia di Jakarta. Dok. Kementan/M.digi

JAKARTA, KabarPemerintah.com - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menunjukkan respons cepat saat menerima laporan mahasiswa terkait dugaan pelanggaran di sektor pertanian dalam forum diskusi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Di hadapan ratusan mahasiswa dari berbagai daerah, Amran langsung menindaklanjuti laporan mengenai dugaan peredaran bawang merah ilegal di Sumatera Utara serta kelangkaan pupuk subsidi untuk petani bawang merah di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tak sekadar mendengar aspirasi, Amran bahkan langsung melakukan sambungan telepon kepada pihak terkait untuk memastikan laporan tersebut segera diproses.

“Kalau ada pelanggaran, laporkan. Tidak boleh ada pembiaran. Kita berantas mafia, kita tindak tegas,” kata Amran di hadapan peserta diskusi.

Laporan dugaan masuknya bawang merah ilegal di Sumatera Utara menjadi perhatian serius Menteri Pertanian. Menurutnya, praktik semacam itu bisa merusak harga pasar dan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani lokal.

Amran menegaskan pemerintah tidak akan memberi ruang bagi pelaku yang merugikan petani. Ia bahkan meminta aparat terkait segera menindak dugaan pelanggaran tersebut.

“Nah itu ditangkap, masukkan penjara. Kapan negeri ini bisa makmur kalau ada pembiaran?” ujarnya tegas.

Selain persoalan bawang merah ilegal, mahasiswa asal NTB juga menyampaikan keluhan terkait pupuk subsidi yang disebut sulit diperoleh petani. Menanggapi hal itu, Amran memastikan pihaknya akan menelusuri distribusi pupuk di daerah tersebut agar bantuan benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan.

Dalam dialog itu, Amran juga mengajak mahasiswa ikut mengawal sektor pertanian nasional melalui kritik yang membangun dan berbasis data. Ia menilai mahasiswa memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam mengawasi kebijakan publik.

“Kita butuh pengkritik yang konstruktif. Bukan fitnah, tapi kritik berbasis data,” katanya.

Menteri Pertanian juga menegaskan komitmennya memberantas praktik mafia pertanian dan tindak korupsi di lingkungan sektor pangan. Menurutnya, pemerintah tidak akan ragu mengambil langkah hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.

Ia menyebut saat ini sudah ada puluhan tersangka yang diproses terkait kasus di sektor pertanian. “Ini bukti bahwa kita tidak main-main,” tegasnya.

Respons cepat Amran mendapat apresiasi dari peserta forum. Koordinator BEM SI Wilayah Sumatera Utara, Muzan Mirisan, menilai langkah cepat Menteri Pertanian menunjukkan keseriusan pemerintah menangani persoalan di lapangan.

Menurutnya, mahasiswa berharap praktik mafia bawang merah ilegal yang merugikan petani dapat segera diberantas.

Sementara itu, mahasiswa asal NTB, Muhammad Abdi Maludin, mengaku mengapresiasi respons langsung Menteri Pertanian terhadap laporan kelangkaan pupuk subsidi di daerahnya.

Ia menilai keterbukaan pemerintah menerima aspirasi mahasiswa menjadi langkah positif agar persoalan di daerah dapat lebih cepat terselesaikan.

(RBT/MAM)

← Kembali ke Daftar