Logo Kabarpemerintah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 51,35 poin atau 0,95 persen ke level 5.439,26. Sepanjang sepekan, IHSG menguat 4,90 persen pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026.

Sumenep Ibu Nusantara, Menelusuri Jejak Arya Wiraraja hingga Pertemuan Nasionalisme dan Religiusitas

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 27 Oct 2026 07:22

Sumenep Ibu Nusantara, Menelusuri Jejak Arya Wiraraja hingga Pertemuan Nasionalisme dan Religiusitas

FOTO: Warkop KDS mengadakan diskusi bersama Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum., Dok. Istimewa

SUMENEP, KabarPemerintah.com – Gagasan tentang posisi Sumenep dalam perjalanan peradaban Nusantara kembali mengemuka dalam diskusi sejarah bertajuk “Sumenep Ibu Nusantara” yang digelar di Tongkrongan KDS, Minggu malam (25/10/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum., atau yang akrab disapa Ra Mamak. Forum ini mengangkat perspektif filosofis dan historis tentang Sumenep, mulai dari simbol rahim peradaban, peran Arya Wiraraja dalam sejarah Majapahit, hingga pertemuan nilai kebangsaan dan religiusitas dalam tradisi sejarah lokal.

Gagasan “Sumenep Ibu Nusantara” tidak sekadar menempatkan wilayah di ujung timur Pulau Madura itu sebagai kawasan geografis, tetapi juga sebagai ruang kebudayaan yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah dan pembentukan peradaban Nusantara.

Sumenep Dimaknai sebagai Rahim Peradaban

Dalam perspektif yang dibahas, Sumenep dimaknai melalui metafora rahim, yakni tempat kehidupan bermula, tumbuh, dan berkembang. Pemaknaan ini dikaitkan dengan gambaran geografis berupa cekungan atau lembah yang tenang.

Secara filosofis, simbol tersebut merepresentasikan kemampuan sebuah wilayah untuk menerima, merawat, dan mengembangkan gagasan yang kemudian berkontribusi terhadap lahirnya peradaban.

Atas dasar itu, istilah “Ibu Nusantara” diposisikan sebagai gagasan kebudayaan yang mengajak masyarakat melihat Sumenep lebih jauh daripada sekadar wilayah administratif atau daerah dengan warisan keraton dan tradisi lokal.

Meski demikian, hubungan antara makna geografis, penafsiran bahasa, dan istilah “Ibu Nusantara” masih memerlukan kajian lebih lanjut melalui pendekatan sejarah, linguistik, dan kebudayaan.

Jejak Arya Wiraraja dalam Lahirnya Majapahit

Salah satu pijakan historis yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah peran Arya Wiraraja dalam perjalanan politik Jawa dan Madura pada masa peralihan dari Singasari menuju Majapahit.

Arya Wiraraja dikenal sebagai tokoh yang memiliki peran strategis dalam membantu Raden Wijaya membangun kekuatan politik yang kemudian mengantarkan pada berdirinya Kerajaan Majapahit.

Keterlibatan tokoh tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk menelusuri hubungan historis Madura, khususnya kawasan yang dikaitkan dengan Sumenep, dengan dinamika pembentukan kerajaan besar di Nusantara.

Dalam kerangka pemikiran yang dibahas, kontribusi Arya Wiraraja dipandang sebagai bagian penting dari proses lahirnya kekuatan politik baru. Perannya tidak hanya dapat dibaca dari sisi strategi kekuasaan, tetapi juga dari jaringan politik dan hubungan antarkawasan yang berkembang pada masa itu.

Perspektif ini mendorong perlunya penelusuran lebih mendalam terhadap sumber-sumber sejarah agar posisi Sumenep dalam rangkaian peristiwa tersebut dapat dipahami secara proporsional.

Dengan demikian, gagasan “Sumenep Ibu Nusantara” dapat dikembangkan melalui dialog antara penafsiran filosofis dan bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menautkan Nasionalisme dan Religiusitas

Diskusi juga menyoroti narasi tentang Raden Ayu Rasmana Tirtanegara dan Bindara Saod sebagai representasi pertemuan nilai kebangsaan dan religiusitas dalam sejarah lokal Sumenep.

Dalam pemaknaan yang berkembang di forum tersebut, Raden Ayu Rasmana Tirtanegara digambarkan membawa idealisme kebangsaan, sedangkan Bindara Saod merepresentasikan nilai-nilai religius.

Keduanya kemudian dipahami secara simbolis sebagai gambaran pertemuan dua unsur penting dalam pembentukan peradaban, yaitu kesadaran kebangsaan dan fondasi spiritual.

Pesan yang mengemuka adalah bahwa peradaban tidak cukup dibangun melalui kekuasaan politik dan kekuatan material. Peradaban juga membutuhkan moralitas, spiritualitas, serta kesadaran kolektif yang mampu menjaga keberlanjutan nilai-nilai masyarakat.

Dalam perspektif ini, perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai bagian dari cerita sejarah, tetapi juga sebagai simbol penjaga nilai, penghubung antargenerasi, dan unsur penting dalam keberlangsungan kebudayaan.

Kendati demikian, identitas tokoh, hubungan antartokoh, serta kronologi peristiwa dalam narasi tersebut tetap perlu ditelusuri melalui sumber sejarah, silsilah, dan tradisi lokal yang relevan.

Sumenep Ibu Nusantara sebagai Gerakan Kebudayaan

Dari rangkaian pembahasan itu, gagasan “Sumenep Ibu Nusantara” bertumpu pada tiga perspektif utama.

Pertama, perspektif filosofis dan geografis yang memaknai Sumenep sebagai ruang persemaian kehidupan dan peradaban.

Kedua, perspektif historis yang menempatkan peran Arya Wiraraja sebagai salah satu titik penting untuk menelusuri keterkaitan Madura dengan proses lahirnya Majapahit.

Ketiga, perspektif sosial dan spiritual yang menekankan pentingnya keseimbangan antara nilai kebangsaan, moralitas, dan religiusitas dalam membangun peradaban.

Ketiga perspektif tersebut dapat menjadi landasan untuk mengembangkan diskusi sejarah yang lebih luas sekaligus mendorong penelitian terhadap sumber-sumber primer, manuskrip, silsilah, dan tradisi lisan masyarakat Sumenep.

Lebih dari sekadar slogan, “Sumenep Ibu Nusantara” berpotensi menjadi wacana intelektual dan gerakan kebudayaan yang mempertemukan masyarakat dengan akar sejarahnya.

Mendorong Kesadaran Sejarah Generasi Muda

Diskusi sejarah ini sekaligus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat terhadap posisi Sumenep dalam perjalanan sejarah Nusantara.

Penggalian sejarah dinilai penting agar warisan masa lalu tidak berhenti sebagai cerita turun-temurun, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang dapat diuji, didiskusikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui forum seperti ini, ruang dialog antara ulama, budayawan, akademisi, generasi muda, dan masyarakat diharapkan terus terbuka. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memperkaya perspektif sekaligus menjaga khazanah sejarah Sumenep agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga memahami identitas dan merumuskan arah masa depan.

Gagasan “Sumenep Ibu Nusantara” menjadi ajakan untuk menelusuri kembali jejak sejarah, menguji narasi melalui kajian ilmiah, serta menghidupkan nilai-nilai kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan peradaban.

Sumenep bukan hanya ruang untuk mengenang sejarah, tetapi juga ruang untuk merawat identitas dan menumbuhkan gagasan bagi masa depan Nusantara.

Oleh : Ibnu - Aksara

← Kembali ke Daftar