Selat Hormus Membara, Iran dan AS Saling Serang di Tengah Gencatan Senjata
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 11 May 2026 23:03
FOTO: Kapal perang Amerika Serikat dihujani drone oleh angkatan bersenjata Iran Dok. Istimewa
JAKARTA, KabarPemerintah.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran dan Amerika Serikat terlibat aksi saling serang di sekitar Selat Hormus. Situasi ini memicu kekhawatiran dunia internasional karena kawasan tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak global yang sangat strategis.
Iran menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menyerang sejumlah fasilitas pelabuhan dan pos militer di wilayah pesisir selatan Iran. Sebagai balasan, militer Iran meluncurkan rudal dan drone yang diarahkan ke kapal perang Amerika Serikat di kawasan Teluk Oman dan Selat Hormus.
Pemerintah Amerika Serikat menyebut serangan mereka dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri setelah kapal tempur AS lebih dulu menjadi sasaran Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim seluruh rudal dan drone Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan militer mereka.
Di sisi lain, Iran menilai tindakan Washington sebagai pelanggaran hukum internasional sekaligus bentuk pengkhianatan terhadap proses diplomasi yang sedang berlangsung. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan maupun ancaman militer dari Amerika Serikat.
Ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk setelah Uni Emirat Arab dilaporkan mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk mencegat rudal dan drone yang melintas. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Meski bentrokan terus terjadi, Donald Trump tetap menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlaku. Namun pernyataan itu menuai sorotan karena kedua negara justru terus melakukan aksi militer dalam beberapa hari terakhir.
Di tengah konflik yang memanas, citra satelit Eropa memperlihatkan adanya tumpahan minyak seluas sekitar 71 kilometer persegi di Selat Hormus. Pengamat menilai eskalasi konflik di jalur vital perdagangan minyak dunia itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dan mengganggu stabilitas ekonomi internasional.
(RBT/MAM)
← Kembali ke Daftar