Logo Kabarpemerintah
Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Hilirisasi Jadi Jalan Indonesia Menuju Kemakmuran. Komitmen Pendidikan Nasional, Presiden Prabowo Subianto Targetkan Sekolah Modern dan Berbasis Teknologi Rampung 2028. Dari MBG hingga Koperasi Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto Dorong Arus Ekonomi Kembali ke Rakyat.

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Tekanan Global Kian Berat

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 18 May 2026 06:29

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Tekanan Global Kian Berat

FOTO: Ilustrasi, seorang teller bank sedang melayani tukar uang rupiah dengan dolar AS. Dok. Kabarpemerintah.com

JAKARTA, KabarPemerintah.com - Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya tekanan ekonomi global dan penguatan dolar AS di pasar internasional. 

Pergerakan rupiah pagi ini berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS. Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi geopolitik dunia, termasuk tensi hubungan ekonomi Amerika Serikat dan China.

Penguatan dolar AS membuat investor global cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dampaknya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.

Selain faktor eksternal, tingginya kebutuhan dolar untuk impor dan transaksi global juga disebut ikut memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah analis menilai kondisi pasar saat ini masih cukup sensitif terhadap berbagai isu global. Mulai dari perang dagang, ketegangan geopolitik, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral AS menjadi faktor yang terus membayangi pasar keuangan dunia.

Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia diyakini terus melakukan langkah stabilisasi agar pelemahan rupiah tidak berlangsung terlalu dalam. Penguatan fundamental ekonomi domestik hingga intervensi pasar menjadi upaya menjaga stabilitas nilai tukar.

Di tengah tekanan tersebut, aktivitas ekonomi nasional disebut masih berjalan normal. Pemerintah optimistis kondisi ekonomi Indonesia tetap mampu bertahan di tengah gejolak global yang belum mereda.

(RBT/MAM)

← Kembali ke Daftar