Logo Kabarpemerintah
Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global, Tumbuh 5,11% Sepanjang 2025. Presiden Prabowo–Presiden Putin Perkuat Aliansi Strategis, Dari Energi hingga Antariksa Jadi Fokus Kerja Sama

NasDem Tegaskan Bukan Merger dengan Gerindra, Willy: Ini Soal Blok Politik

Ditulis oleh herman - 15 Apr 2026 13:34

NasDem Tegaskan Bukan Merger dengan Gerindra, Willy: Ini Soal Blok Politik

FOTO: CaprPrabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Nasdem Tower, Jakarta, (22/3/2024). Dok. KOMPAS.com/ Tatang Guritno

JAKARTA, KabarPemerintah.com – Isu penggabungan antara Partai NasDem dan Partai Gerindra akhirnya ditepis. Ketua DPP NasDem, Willy Aditya, menegaskan bahwa gagasan yang diusung oleh Surya Paloh bukanlah merger, melainkan pembentukan blok politik atau political bloc.

“Apa yang ditawarkan oleh seorang Surya Paloh adalah political bloc. Blok politik, bukan merger,” tegas Willy saat ditemui di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4/2026), dilansir dari Antara.

Menurutnya, konsep political bloc merupakan bagian dari rekayasa politik untuk menjawab kecenderungan hubungan antarpartai yang dinilai semakin transaksional. Ia menilai, pola kerja sama politik saat ini perlu diperkuat dengan fondasi yang lebih solid dan berkelanjutan.

“Kan selama ini transaksional banget, ya. Nah, kita membutuhkan sebuah political bloc yang solid dari atas sampai ke bawah, begitu. Pemahamannya jangan merger, dong,” katanya.

Willy juga menyayangkan munculnya narasi merger yang berkembang di publik. Ia menilai istilah tersebut tidak tepat digunakan dalam konteks yang sedang dibicarakan oleh NasDem.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia memang pernah mengalami fase fusi partai politik, namun hal itu terjadi karena dorongan kekuasaan negara, bukan atas kesepakatan alami antarpartai.

“Kita pernah punya tradisi fusi kepartaian, tapi itu di-drive (didorong) dari atas oleh kekuasaan. Penggabungan partai hanya dua: partai-partai Islam menjadi PPP, partai-partai nasionalis menjadi PDI,” tuturnya.

Lebih jauh, Willy menilai pemikiran Surya Paloh kerap melampaui pola pikir politik konvensional. Ia menyebut publik selama ini terlalu sempit dalam memahami kerja sama politik, yang hanya sebatas koalisi elektoral atau sekretariat bersama.

“Pak Surya itu orang yang berpikir out of the box (lain dari biasanya). Kan kita selama ini berpikir cuma sekretariat bersama, partai koalisi. Koalisi itu dalam proses kandidasi. Sementara di dalam government (pemerintahan), kita tidak mengenal koalisi,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan bahwa konsep blok politik sejatinya bukan hal baru dalam sejarah Indonesia. Salah satu contohnya adalah Partai Golkar yang sejak awal terbentuk sebagai wadah golongan karya.

Selain itu, pada masa Soekarno, konsep serupa juga pernah diterapkan melalui Front Nasional dengan ide besar Nasakom.

“Golkar itu political bloc. Ingat dulu Undang-Undang yang lama, Undang-Undang partai politik dan golongan karya. Artinya, kita punya dua political bloc, ya. Satu, dulu Bung Karno ketika dia mengeluarkan dekrit itu namanya Front Nasional, yang bernama Nasakom itu. Yang kedua, golongan karya itu sebelumnya Sekber Golkar. Itu political bloc,” ucap Willy.

Terkait pertemuan antara Surya Paloh dan Prabowo Subianto, Willy menilai hal itu sebagai dinamika politik yang wajar. Ia menyebut hubungan keduanya sudah terjalin lama dan diwarnai diskusi mendalam.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa pertemuan di NasDem Tower, Gondangdia, berlangsung hingga enam jam, membahas berbagai isu strategis secara terbuka.

“Wajar saja dua sahabat bertemu. Ketika pertama kali Pak Prabowo datang ke Gondangdia (NasDem Tower), kami diskusi enam jam tentang banyak hal. Di mana ada hal yang lebih akrab, yang lebih intimate, untuk bisa berdialektika seperti itu? Seorang Surya Paloh dengan seorang Pak Prabowo waktu itu bisa berdiskusi secara equal (setara) tentang banyak hal,” kata dia, dilansir dari Antara.

(FS/MAM)

← Kembali ke Daftar