Logo Kabarpemerintah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) konsisten per 9 Juni sempat naik sekitar 4,8% ke level 5.599 dan bergerak di rentang 5.318–5.628.

Menkeu Purbaya Terbang ke Beijing, Siapkan Panda Bond dan Perkuat Fondasi Pembiayaan Pembangunan Indonesia

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 18 Jun 2026 04:52

Menkeu Purbaya Terbang ke Beijing, Siapkan Panda Bond dan Perkuat Fondasi Pembiayaan Pembangunan Indonesia

FOTO: Kemenkeu Purbaya menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok, Lan Fo’an. Dok. Kemenkeu

JAKARTA, KabarPemerintah.com– Pemerintah Indonesia terus bergerak memperkuat strategi pembiayaan pembangunan di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Di saat banyak negara menghadapi tekanan akibat gejolak pasar keuangan, perlambatan ekonomi dunia, hingga ketegangan geopolitik, Indonesia memilih mengambil langkah proaktif untuk memastikan pembangunan nasional tetap berjalan secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kunjungan kerja Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, ke Beijing, Tiongkok, pada Rabu (17/6/2026). Dalam lawatan tersebut, Purbaya menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok, Lan Fo’an, guna membahas penguatan kerja sama ekonomi dan pembiayaan pembangunan antara kedua negara.

Pertemuan itu menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas akses pendanaan pembangunan, memperkuat basis investor, serta meningkatkan kemitraan ekonomi dengan negara-negara strategis. Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya fokus menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri, tetapi juga aktif membangun jejaring kerja sama internasional yang mampu mendukung agenda pembangunan jangka panjang.

Dalam kesempatan itu, Purbaya menegaskan bahwa Indonesia tidak memilih menunggu hingga tekanan global semakin besar. Pemerintah justru mengambil langkah lebih awal dengan memperkuat fondasi pembiayaan agar pembangunan dapat terus berlangsung tanpa terganggu oleh perubahan kondisi ekonomi dunia.

Menurutnya, ketahanan ekonomi nasional yang selama ini dibangun melalui berbagai reformasi dan kebijakan fiskal yang disiplin menjadi modal penting bagi Indonesia untuk tampil lebih percaya diri di tingkat global. Karena itu, pemerintah memandang kerja sama internasional bukan sebagai bentuk ketergantungan, melainkan sebagai upaya memperluas peluang dan memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi dunia.

“Indonesia tidak menunggu. Kami bergerak lebih awal dengan membangun fondasi pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan agar pembangunan dapat terus berjalan di tengah berbagai tantangan global,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan bahwa Indonesia datang ke Beijing dalam posisi yang kuat. Kondisi tersebut tercermin dari rasio utang pemerintah yang tetap terkendali, defisit anggaran yang berada dalam batas aman, serta pertumbuhan ekonomi yang masih mampu menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global.

Purbaya menilai kondisi tersebut memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah untuk mengambil keputusan strategis dan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan berbagai mitra internasional.

“Kami datang ke Beijing bukan karena terdesak, tetapi karena Indonesia memiliki posisi yang kuat untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Ketika fondasi ekonomi kokoh, kita memiliki ruang untuk bertindak lebih strategis dan lebih percaya diri,” tegasnya.

Selain membahas peluang kerja sama pembiayaan, pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya mempererat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok yang selama ini terus berkembang. Tiongkok diketahui masih menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia serta investor utama di berbagai sektor strategis.

Pemerintah berharap hubungan bilateral kedua negara dapat terus diperkuat, baik melalui kerja sama langsung maupun melalui berbagai forum ekonomi internasional seperti G20, Asia-Pacific Economic Cooperation, dan ASEAN Plus Three.

Dalam kunjungan kerja tersebut, salah satu agenda utama yang dipersiapkan pemerintah adalah penerbitan sovereign Panda Bond. Instrumen keuangan ini merupakan obligasi pemerintah yang diterbitkan di pasar keuangan Tiongkok dengan denominasi mata uang yuan.

Panda Bond dipandang sebagai langkah strategis untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan negara. Melalui instrumen ini, Indonesia dapat menjangkau investor baru di pasar Tiongkok sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber pendanaan konvensional yang selama ini banyak bertumpu pada pasar tertentu.

Selain memperluas basis investor, penerbitan Panda Bond juga diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Instrumen tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) yang saat ini terus dikembangkan oleh kedua negara.

Pemerintah meyakini diversifikasi sumber pembiayaan menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Dengan memiliki akses pendanaan yang lebih luas, Indonesia dinilai akan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola kebutuhan pembiayaan pembangunan nasional.

Di sisi lain, Purbaya juga menyoroti masih kuatnya kepercayaan investor terhadap Indonesia. Menurutnya, minat pasar terhadap instrumen keuangan pemerintah tetap tinggi meskipun kondisi global masih dibayangi berbagai risiko dan ketidakpastian.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Kredibilitas Indonesia di mata investor merupakan hasil dari konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, menjalankan reformasi ekonomi, serta mempertahankan stabilitas makroekonomi.

“Kepercayaan pasar tidak dibangun dalam semalam. Itu merupakan hasil dari disiplin fiskal, reformasi yang konsisten, dan kredibilitas kebijakan yang terus dijaga pemerintah. Karena itu, Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di kawasan,” ujarnya.

Selama berada di Beijing, Menteri Keuangan juga dijadwalkan menggelar pertemuan dengan People's Bank of China, Shanghai Cooperation Organization Development Bank, serta Asian Infrastructure Investment Bank. Pertemuan tersebut bertujuan memperluas jejaring kemitraan strategis sekaligus membuka peluang kerja sama pembiayaan yang lebih besar di masa depan.

Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional, memperluas akses terhadap sumber pendanaan global, serta menjaga keberlanjutan pembangunan di tengah tantangan ekonomi dunia yang terus berkembang.

“Di saat sebagian pihak memilih menunggu kepastian, Indonesia memilih menyiapkan masa depan. Itulah alasan kami terus bergerak, membangun kepercayaan, dan memperkuat fondasi ekonomi bangsa,” tutup Purbaya.

(RSH/YD)

← Kembali ke Daftar