Menkeu Purbaya: APBN 2025 Tetap Solid di Tengah Tekanan Global
Ditulis oleh KabarPemerintah.com - 12 Jan 2026 23:20
FOTO: Menkeu Purbaya Yudi Sadewa sesi Foto bersama Dok. Kemenkeu Biro KLI/Wismu Nanda R. R
JAKARTA, KabarPemerintah.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan kinerja sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang dinilai tetap kuat meski dihadapkan pada situasi global dan domestik yang penuh tekanan. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa yang digelar di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Purbaya menegaskan, sepanjang 2025 APBN berperan penting sebagai instrumen kebijakan yang adaptif dan responsif dalam merespons berbagai dinamika ekonomi.
“Di tengah kondisi yang sangat volatile, APBN kita tetap hadir sebagai alat kebijakan yang antisipatif, baik terhadap tantangan global maupun perkembangan ekonomi dalam negeri,” ujar Purbaya.
Dari sisi pendapatan, negara berhasil membukukan realisasi sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook semester sebesar Rp2.865,5 triliun. Capaian tersebut ditopang oleh penerimaan perpajakan yang mencapai Rp2.217,9 triliun atau 89 persen dari target.
Penerimaan pajak tercatat sebesar Rp1.917,6 triliun atau 87,6 persen dari target, sementara penerimaan kepabeanan dan cukai hampir mencapai target dengan realisasi Rp300,3 triliun atau 99,6 persen. Di luar itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencatatkan kinerja positif dengan realisasi Rp534,1 triliun atau 104 persen dari target. Penerimaan hibah juga melampaui ekspektasi dengan capaian Rp4,3 triliun.
Sementara di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook semester. Belanja pemerintah pusat tercatat sebesar Rp2.602,3 triliun, yang terdiri atas belanja kementerian dan lembaga Rp1.500,4 triliun serta belanja non-K/L sebesar Rp1.102 triliun. Adapun transfer ke daerah telah disalurkan sebesar Rp849 triliun.
Purbaya menekankan, pemerintah terus melakukan reformasi untuk meningkatkan kualitas APBN, baik dari sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan. Belanja negara diarahkan agar tetap adaptif dan mendukung berbagai program prioritas yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Di tengah tren perlambatan ekonomi, kita harus memberikan stimulus agar perekonomian tetap bergerak. Ini bentuk komitmen pemerintah menjaga pertumbuhan tanpa mengorbankan kesehatan APBN,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga akhir tahun 2025 defisit APBN berhasil dijaga pada level aman, yakni 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau sekitar Rp695,1 triliun, tetap di bawah ambang batas 3 persen.
Menurut Purbaya, kebijakan fiskal yang diterapkan saat ini mencerminkan peran APBN sebagai instrumen countercyclical yang mampu menopang perekonomian di tengah tekanan global.
“Defisit kita jaga tetap terkendali, tapi ekonomi tetap kita dorong agar bisa berekspansi. Inilah kebijakan nyata countercyclical yang terus kita jalankan,” katanya.
Ke depan, Menkeu optimistis fondasi ekonomi nasional akan semakin menguat. Dengan momentum pertumbuhan yang membaik, pemerintah menargetkan defisit pada 2026 bisa ditekan lebih rendah, dengan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
“Tahun ini kita asumsikan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, namun kita akan terus berupaya mendorongnya ke level yang lebih tinggi,” tutup Purbaya.
Pemerintah memastikan APBN akan terus dioptimalkan perannya sebagai mesin pertumbuhan sekaligus peredam guncangan ekonomi, guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas perekonomian nasional.
(RBT/MAM)
← Kembali ke Daftar