Logo Kabarpemerintah
IHSG ditutup menguat 0,87% atau naik 49,44 poin ke level 5.744,56 pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Penguatan ditopang optimisme pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga.

Lahan Luas, Petani Melimpah, tapi Belum Sejahtera: Desa Gadding Hadapi Sejumlah Tantangan

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 08 Jul 2026 04:37

Lahan Luas, Petani Melimpah, tapi Belum Sejahtera: Desa Gadding Hadapi Sejumlah Tantangan

FOTO: Kepala Desa Gadding, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep. Dok. Istimewa

SUMENEP, KabarPemerintah.com – Hamparan lahan pertanian yang membentang luas di Desa Gadding, Kecamatan Manding, Kabupaten Sumenep, menjadi salah satu aset terbesar yang dimiliki desa tersebut. Namun di balik besarnya potensi itu, kesejahteraan petani masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Dengan luas wilayah sekitar 1.296 hektare, mayoritas kawasan Desa Gadding dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Saat musim hujan, petani menanam padi, jagung, dan berbagai tanaman palawija. Memasuki musim kemarau, lahan-lahan itu berubah menjadi kebun tembakau yang menjadi komoditas unggulan masyarakat.

Kepala Desa Gadding, Busairi, mengatakan hampir seluruh warga desanya menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Sekitar 99 persen penduduk berprofesi sebagai petani, sementara sisanya bekerja sebagai pedagang, tukang, maupun karyawan.

Meski demikian, hasil pertanian dinilai belum mampu memberikan penghasilan yang stabil bagi masyarakat.

"Kami bersyukur memiliki lahan pertanian yang luas. Harapan kami, panen tembakau tahun ini memberikan hasil yang baik dengan harga yang tetap tinggi, sehingga petani bisa menikmati keuntungan. Beberapa waktu lalu harga tembakau sempat tidak menentu, padahal dua hingga tiga tahun sebelumnya kondisinya jauh lebih baik," ujar Busairi, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, terdapat sejumlah persoalan yang membuat sektor pertanian belum berkembang secara optimal. Salah satunya adalah status kepemilikan lahan yang cukup kompleks.

Sebagian lahan yang digarap petani bukan merupakan milik pribadi maupun aset Desa Gadding, melainkan Tanah Kas Desa (TKD) milik desa lain dan lahan yang dikelola yayasan. Kondisi tersebut membuat petani harus mengeluarkan biaya sewa sebelum mengolah lahan, sehingga keuntungan yang diperoleh saat panen menjadi berkurang.

Di sisi lain, masih ditemukan lahan tidur yang dibiarkan tidak produktif. Tingginya biaya produksi dibandingkan hasil panen menjadi alasan sebagian pemilik memilih tidak menggarap lahannya.

Busairi juga menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Banyak pemuda lebih memilih merantau ke Jakarta maupun kota-kota besar lainnya untuk membuka usaha, terutama warung khas Madura, atau bekerja di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan.

"Anak-anak muda sekarang banyak memilih merantau karena menganggap bertani belum mampu memberikan penghasilan yang menjanjikan," katanya.

Melihat kondisi tersebut, Busairi berharap pemerintah, khususnya Dinas Pertanian, dapat meningkatkan pendampingan kepada petani melalui penyuluhan, pelatihan, hingga penerapan teknologi pertanian yang lebih modern.

Selain itu, ia juga berharap pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan usaha tani, jaringan irigasi, dan fasilitas pertanian lainnya, mendapat perhatian lebih agar produktivitas petani meningkat.

"Kalau sarana pendukung memadai dan petani mendapatkan pendampingan yang baik, kami optimistis hasil pertanian akan meningkat dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat," pungkasnya.

(RSH/MAM)

← Kembali ke Daftar