Krisis Minyak Global Mengintai, Pasokan Tertekan Lebih dari 10% Usai Penutupan Selat Hormuz
Ditulis oleh herman - 02 May 2026 23:41
FOTO: Ilustrasi Ai Kapal Minyak tertahan di selat Hormuz. Dok. KabarPemerintah.com
JAKARTA, KabarPemerintah.com - Tekanan di pasar energi global kembali memanas. Penutupan Selat Hormuz membuat lebih dari 10 persen pasokan minyak dunia terganggu, memicu kekhawatiran akan krisis energi dalam waktu dekat.
Selat sempit yang selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dunia itu kini nyaris tanpa aktivitas. Padahal, hampir seperlima pasokan global biasanya melintas di wilayah tersebut setiap hari.
Awalnya, banyak pelaku pasar energi menilai Iran tidak akan mengambil langkah ekstrem seperti menutup jalur vital itu. Risiko konflik dengan negara Teluk, gangguan ekspor ke Asia, hingga potensi kerugian ekonomi sendiri dianggap terlalu besar.
Namun situasi berubah cepat. Memanasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat ketegangan meningkat, bahkan berdampak langsung pada lalu lintas kapal komersial di kawasan tersebut. Upaya diplomasi sejauh ini belum mampu membuka kembali jalur tersebut secara normal.
Harga Minyak Naik, Tapi Pasar Masih Bertahan
Meski tekanan pasokan cukup besar, lonjakan harga minyak belum setinggi yang sempat dikhawatirkan. Harga minyak mentah Brent saat ini berada di kisaran 120 dolar AS per barel—naik signifikan, tapi masih di bawah prediksi terburuk yang sempat menyentuh 150 hingga 200 dolar AS.
Menariknya, ekonomi global belum sepenuhnya terguncang. Di banyak negara maju, aktivitas masih berjalan normal. Kenaikan harga bensin dan tiket pesawat memang terasa, namun belum sampai mengganggu pertumbuhan secara drastis.
Pasar saham global pun masih bertahan di level tinggi, menandakan pelaku pasar masih percaya kondisi ini bisa dikendalikan setidaknya untuk sementara.
Kekurangan Pasokan Mulai Terasa
Di balik kondisi yang terlihat “tenang”, tekanan sebenarnya cukup besar. Sebelum krisis, sekitar 18 juta barel minyak per hari mengalir melalui Selat Hormuz. Kini, meski ada jalur alternatif dan tambahan pasokan dari luar kawasan, dunia tetap kehilangan lebih dari 12 juta barel per hari.
Angka itu jauh lebih besar dibanding krisis sebelumnya, termasuk saat gangguan pasokan dari Rusia yang hanya berdampak sekitar 3 persen dari total dunia.
Produksi Tambahan Tidak Instan
Menutup kekurangan pasokan bukan perkara mudah. Negara produsen utama seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memang punya kapasitas cadangan, tetapi distribusinya ikut terdampak situasi.
Di sisi lain, produksi minyak serpih di Amerika Serikat tidak bisa langsung melonjak. Butuh waktu beberapa bulan untuk meningkatkan produksi, dan hasilnya pun tidak langsung signifikan.
Rusia juga tidak dalam posisi ideal untuk menambah produksi karena tekanan pada infrastruktur energinya.
Stok Jadi Andalan, Tapi Tidak Bertahan Lama
Saat ini, dunia banyak mengandalkan cadangan minyak untuk menutup kekurangan pasokan. Negara-negara anggota International Energy Agency bahkan sudah melepas ratusan juta barel dari cadangan strategis.
Namun langkah ini bukan solusi jangka panjang. Jika kondisi berlanjut, cadangan bisa cepat terkuras. Dalam dua bulan terakhir saja, konsumsi stok terjadi dalam jumlah besar setiap hari.
Sejumlah analis memperkirakan, jika situasi tidak membaik, tekanan pasokan bisa mencapai titik kritis dalam waktu satu hingga dua bulan ke depan.
Permintaan Mulai Tertekan
Kenaikan harga mulai berdampak pada konsumsi. Di Asia, industri petrokimia mengurangi produksi karena bahan baku semakin mahal dan langka.
Harga bahan bakar seperti solar dan avtur melonjak tajam, bahkan di beberapa wilayah mencapai dua kali lipat. Di negara berkembang, harga bensin juga ikut meroket dan mulai membebani masyarakat.
Ancaman Nyata di Depan Mata
Meski belum terjadi kepanikan besar, tanda-tanda tekanan sudah terlihat. Beberapa transaksi bahan bakar bahkan dilaporkan terjadi pada harga sangat tinggi, mencerminkan kondisi pasar yang mulai tidak stabil.
Jika Selat Hormuz tetap tertutup, dunia berpotensi menghadapi krisis energi serius. Pada akhirnya, harga kemungkinan akan terus naik hingga permintaan turun dan pasar kembali seimbang meski dengan dampak ekonomi yang tidak kecil.
(RBT/MAM)
← Kembali ke Daftar