Logo Kabarpemerintah
IHSG ditutup menguat 0,87% atau naik 49,44 poin ke level 5.744,56 pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Penguatan ditopang optimisme pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga.

Kisah Inagatha, Anak Petani yang Kini Resmi Jadi Advokat: Pernah Tak Berani Bicara, Kini Siap Membela Kebenaran

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 05 Jul 2026 12:13

Kisah Inagatha, Anak Petani yang Kini Resmi Jadi Advokat: Pernah Tak Berani Bicara, Kini Siap Membela Kebenaran

FOTO: Inagatha menjadi salah satu calon advokat yang mengucapkan sumpah dan janji profesi. Dok. Istimewa

SURABAYA, KabarPemerintah.com – Perjalanan hidup seseorang tak selalu ditentukan oleh tempat ia dilahirkan. Hal itu dibuktikan oleh Inagatha Setyarahma Pangastuti, perempuan asal Kabupaten Jombang yang berhasil mengubah keterbatasan menjadi kekuatan hingga resmi menyandang profesi advokat.

Di ruang sidang Pengadilan Tinggi Surabaya, Kamis (2/7/2026), Inagatha menjadi salah satu calon advokat yang mengucapkan sumpah dan janji profesi. Momen itu menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya sebagai anak petani yang tumbuh di desa kecil dan kini siap mengabdikan diri untuk menegakkan keadilan.

Di Surabaya, ia lebih dikenal dengan nama Inagatha. Sementara di kampung halamannya, keluarga dan tetangga akrab memanggilnya Aga. Dua nama yang melekat dalam satu sosok perempuan yang memilih terus melangkah meski jalan hidupnya tidak selalu mudah.

Saat mengucapkan sumpah advokat, Inagatha mengaku tak mampu menahan haru. Bukan karena gugup menghadapi prosesi sakral tersebut, melainkan karena ingatannya kembali pada perjuangan panjang yang telah dilalui bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani.

"Saat mengucapkan sumpah, saya terharu. Saya yang dulu merasa tidak punya banyak pilihan atas hidup saya, sekarang justru akan ikut menentukan arah hidup orang lain melalui profesi ini. Dulu saya belajar berani berbicara untuk diri sendiri, sekarang saya harus berani bersuara untuk orang lain," ujarnya pada wartawan, sabtu (4/6/2026).

Baginya, status advokat bukan sekadar profesi, melainkan amanah besar untuk membela masyarakat yang membutuhkan perlindungan hukum dan memastikan setiap orang memperoleh keadilan tanpa memandang latar belakang.

Dari Anak Pendiam Menjadi Pembela Keadilan

Tak banyak yang mengetahui bahwa Inagatha pernah tumbuh sebagai anak yang pemalu dan jarang menyampaikan pendapat. Sejak kecil ia terbiasa mengikuti keputusan kedua orang tuanya.

"Dulu hidup saya ya apa kata Bapak, apa kata Ibu. Saya bukan anak yang vokal. Bahkan menjadi advokat tidak pernah ada dalam daftar cita-cita saya," tuturnya.

Perubahan besar dimulai pada 2018 ketika ia memutuskan merantau ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya. Keputusan tersebut sempat membuat kedua orang tuanya khawatir karena harus melepas putri sulung mereka hidup jauh dari kampung halaman.

Keraguan itu akhirnya terbayar setelah Inagatha berhasil memperoleh beasiswa dari pemerintah untuk menempuh pendidikan sarjana. Kesempatan tersebut menjadi pintu yang membawanya terus berkembang, baik secara akademik maupun pribadi.

Perjuangan Berlanjut Hingga Raih LPDP

Usai menyelesaikan pendidikan sarjana, Inagatha tidak langsung pulang ke kampung halaman. Ia memilih bertahan di Surabaya demi membangun karier.

Kesempatan datang ketika dirinya diterima mengikuti program magang dari Kementerian Ketenagakerjaan. Pengalaman itu memperkenalkannya pada dunia kerja sekaligus membuka jalan untuk berkarier di bidang hukum.

Di tengah kesibukan bekerja, ia diam-diam mempersiapkan diri mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Usahanya membuahkan hasil. Ia dinyatakan lolos dan melanjutkan studi Magister Hukum di Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Selama menjadi mahasiswa magister, Inagatha aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun organisasi. Ia mengikuti seminar hukum, pelatihan profesi, menulis karya ilmiah, hingga menjalani Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA).

Pengalaman magang bersama para advokat membuat pandangannya terhadap profesi tersebut berubah.

"Saya merasa profesi ini sangat menantang. Ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa memperjuangkan kebenaran untuk orang lain. Dari situ saya sadar, ternyata saya ingin berada di jalan ini," katanya.

Persembahan untuk Kedua Orang Tua

Perjalanan akademik Inagatha berakhir dengan prestasi membanggakan. Ia lulus Magister Hukum Universitas Airlangga dengan predikat cumlaude.

Namun, menurutnya, pencapaian terbesar bukanlah nilai akademik ataupun gelar yang diraih, melainkan kebahagiaan melihat kedua orang tuanya tersenyum bangga.

"Bapak dan Ibu saya hanya petani. Mereka bukan pejabat atau orang yang memiliki jabatan besar. Tapi putrinya bisa menjadi lulusan Magister Hukum Universitas Airlangga dengan predikat cumlaude dan sekarang resmi menjadi advokat. Saya hanya meminta doa mereka, dan ternyata doa itu mengantarkan saya sampai sejauh ini," ungkapnya.

Ia mengakui perjalanan merantau tidak pernah mudah. Banyak keputusan harus diambil sendiri, berbagai kegagalan harus dihadapi sendiri, hingga belajar bangkit dari setiap kesulitan.

"Saya merasa berjalan dengan cara meraba-raba. Kadang jatuh, bangkit lagi. Kadang salah jalan, lalu memutar arah lagi. Kalau terluka, ya saya obati sendiri. Tapi mungkin memang begitulah cara Tuhan mendewasakan saya," tuturnya.

Siap Menjadi Suara bagi Mereka yang Membutuhkan

Kini, setelah resmi menyandang profesi advokat, Inagatha ingin menggunakan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya untuk membantu masyarakat memperoleh keadilan.

Ia berharap dapat menjadi advokat yang tidak hanya memahami hukum secara profesional, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk membela mereka yang lemah dan tidak memiliki kesempatan menyuarakan haknya.

"Saya hanya ingin terus didoakan oleh orang tua, keluarga, dan semua orang yang menyayangi saya. Semoga setelah disumpah menjadi advokat, saya bisa semakin lantang menyuarakan kebenaran," pungkasnya.

Perjalanan Inagatha menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal latar belakang. Dari seorang anak petani di pelosok Jombang, ia berhasil menembus berbagai tantangan hingga berdiri tegak sebagai advokat. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kerja keras, pendidikan, dan doa orang tua mampu mengantarkan seseorang melampaui batas yang sebelumnya dianggap mustahil.

Naskah ini sudah disusun dengan gaya khas Merdeka.com: lead yang kuat, alur naratif, kutipan dipertahankan, bahasa lebih natural, dan layak dipublikasikan sebagai feature inspiratif.

(RMN/MAM)

← Kembali ke Daftar