Kelangkaan BBM di Giligenting Sumenep, Harga Pertalite Tembus Rp17 Ribu per Liter, Warga Minta Solusi Cepat
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 23 Jun 2026 08:44
FOTO: Antrean Panjang BBM Bersubsidi (Pertalite) POM Bensin Kabupaten Sumenep. Dok. KabarPemerintah
SUMENEP, KabarPemerintah.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, mulai dikeluhkan warga. Pasokan yang terbatas membuat harga Pertalite di tingkat pengecer melambung hingga Rp15.000 sampai Rp17.000 per liter.
Keluhan tersebut disampaikan Wakid, pemuda asal Giligenting, saat ditemui pada Selasa (23/6/2026). Ia mengaku kondisi tersebut sangat memberatkan masyarakat, terutama mahasiswa, nelayan, dan warga yang setiap hari bergantung pada transportasi untuk beraktivitas.
Menurutnya, lonjakan harga BBM terjadi akibat pasokan yang menipis dalam lebih dari sepekan terakhir. Akibatnya, masyarakat terpaksa membeli BBM dengan harga jauh di atas harga normal.
“Sekarang harga bensin eceran di Giligenting berkisar Rp15.000 sampai Rp17.000 per liter. Kondisi ini sangat memberatkan masyarakat, apalagi biaya transportasi dari kepulauan menuju Kota Sumenep juga sudah cukup mahal. Keadaan ini sudah berlangsung lebih dari satu minggu,” ujar Wakid.
Ia menjelaskan, sebagian pedagang bensin eceran diduga memperoleh pasokan dari pom mini yang berada di sekitar pelabuhan. BBM tersebut kemudian dibeli menggunakan galon bekas air mineral berkapasitas sekitar 15 liter sebelum dijual kembali kepada masyarakat.
“Mereka membeli BBM dari pom mini menggunakan galon bekas air mineral ukuran 15 liter, lalu dijual kembali secara eceran. Karena pasokan terbatas, harga akhirnya menjadi sangat tinggi,” katanya.
Sebagai mahasiswa, Wakid mengaku merasakan langsung dampak mahalnya harga BBM. Menurut dia, masyarakat kepulauan selama ini sudah menghadapi tingginya biaya transportasi, sehingga kenaikan harga BBM semakin menambah beban ekonomi warga.
“Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi atas persoalan ini. Masyarakat kepulauan, khususnya di Giligenting, sangat membutuhkan ketersediaan BBM yang cukup dengan harga yang terjangkau,” tegasnya.
Keluhan tersebut mendapat tanggapan dari anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Ahmadi Yazid. Saat dikonfirmasi pada Selasa (23/6/2026), ia mengaku prihatin apabila kelangkaan BBM bersubsidi benar terjadi hingga menyebabkan harga Pertalite melonjak drastis di tingkat masyarakat.
“Terima kasih atas informasinya. Saya sangat prihatin jika memang terjadi kelangkaan BBM bersubsidi di Giligenting hingga menyebabkan harga Pertalite mencapai Rp15.000 hingga Rp17.000 per liter, bahkan sampai Rp25.000 untuk penjualan eceran dalam kemasan besar. Kondisi ini tentu memberatkan masyarakat, nelayan, dan pelaku usaha kecil di kepulauan,” ujarnya.
Ahmadi menegaskan bahwa persoalan tersebut akan menjadi perhatian serius karena Giligenting merupakan bagian dari daerah pemilihannya. Ia berjanji akan segera berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Pertamina, dan instansi terkait guna mencari penyebab kelangkaan serta memastikan distribusi BBM kembali berjalan normal.
“Saya akan berkoordinasi dengan pihak terkait, baik pemerintah daerah, Pertamina, maupun instansi pengawas distribusi BBM untuk mengetahui penyebab kelangkaan dan mencari solusi agar pasokan BBM kembali normal serta tepat sasaran,” katanya.
Selain itu, ia meminta masyarakat turut memberikan informasi yang lebih rinci mengenai kondisi di lapangan, termasuk wilayah terdampak, kondisi lembaga penyalur BBM, serta waktu pasti mulai terjadinya kelangkaan.
Menurut Ahmadi, informasi tersebut penting sebagai bahan koordinasi dengan pihak terkait agar langkah penanganan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakat. Ia berharap persoalan ini dapat segera teratasi sehingga warga Giligenting tidak lagi harus membeli BBM dengan harga yang jauh di atas ketentuan.
(RSH/MAM)
← Kembali ke Daftar