Logo Kabarpemerintah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 51,35 poin atau 0,95 persen ke level 5.439,26. Sepanjang sepekan, IHSG menguat 4,90 persen pada perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026.

Juda Agung Minta DJKN Tak Sekadar Kelola Aset Negara, tapi Harus Hasilkan Nilai Ekonomi

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 05 Nov 2026 04:34

Juda Agung Minta DJKN Tak Sekadar Kelola Aset Negara, tapi Harus Hasilkan Nilai Ekonomi

FOTO: Wamenkeu saat membuka Forum Asset Strategist DJKN Tahun 2026 sekaligus meresmikan Executive Monitoring and Analytic System (EMAS) DJKN di Jakarta. Dok.Kemenkeu

JAKARTA, KabarPemerintah.com– Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mendorong Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) melakukan transformasi besar dalam mengelola aset milik negara. Dia ingin DJKN tidak lagi hanya berperan sebagai administrator aset, tetapi berkembang menjadi asset strategist yang mampu menciptakan nilai ekonomi bagi negara dan masyarakat.

Menurut Juda, aset negara tidak seharusnya hanya menjadi kekayaan yang dicatat, diamankan, dan dipelihara. Lebih dari itu, aset tersebut harus dikelola secara produktif agar memberikan manfaat nyata bagi perekonomian.

Pesan tersebut disampaikan Juda saat membuka Forum Asset Strategist DJKN Tahun 2026 sekaligus meresmikan Executive Monitoring and Analytic System (EMAS) DJKN di Jakarta, Rabu (4/11/2026).

Juda menilai, setelah dua dasawarsa membangun fondasi pengelolaan kekayaan negara yang profesional, akuntabel, dan kredibel, DJKN kini harus memasuki tahap berikutnya, yakni penciptaan nilai atau value creation.

Terlebih, kebutuhan pembangunan nasional terus meningkat, sementara ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Kondisi tersebut menuntut seluruh sumber daya negara, termasuk aset yang dimiliki pemerintah, dimanfaatkan secara lebih optimal.

"Aset negara tidak cukup hanya dicatat, diamankan, dan dipelihara, harus semakin produktif dan memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian dan masyarakat," tegas Juda.

Tiga Pesan Juda untuk DJKN

Dalam arahannya, Juda menyampaikan tiga hal penting yang harus menjadi perhatian seluruh jajaran DJKN.

Pertama, memperkuat posisi DJKN sebagai asset strategist. Menurutnya, DJKN harus memiliki kapasitas organisasi, keahlian, serta pembagian kewenangan yang lebih kuat untuk menghadapi kompleksitas pengelolaan aset dan piutang negara.

Dengan perubahan tersebut, DJKN diharapkan tidak hanya menjalankan urusan administrasi, tetapi juga mampu merumuskan strategi dan menghadirkan solusi dalam pengelolaan kekayaan negara.

Kedua, memastikan pengelolaan aset negara mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian. Penguatan fungsi penilaian diperlukan untuk mendukung kualitas belanja negara. Sementara layanan lelang juga perlu dikembangkan agar semakin berperan dalam mendukung aktivitas ekonomi.

Ketiga, membangun organisasi yang lebih modern melalui pemanfaatan teknologi digital, pengolahan data, serta kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Juda menilai transformasi digital harus berdampak langsung terhadap kualitas pelayanan dan pengambilan keputusan, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

Resmikan EMAS DJKN, Juda: Bukan Sekadar Dashboard

Sejalan dengan upaya transformasi tersebut, Juda juga meresmikan Executive Monitoring and Analytic System (EMAS) DJKN.

Sistem ini diharapkan menjadi instrumen pendukung pengambilan keputusan berbasis data. Melalui digitalisasi, proses kerja di lingkungan DJKN diharapkan lebih sederhana, pelayanan semakin cepat, serta keputusan yang dihasilkan semakin berkualitas.

Juda mengingatkan agar EMAS tidak hanya menjadi tampilan informasi atau dashboard yang menyajikan data, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk menentukan kebijakan dan langkah strategis.

"EMAS tidak boleh hanya menjadi dashboard, tetapi harus menjadi instrumen pengambilan keputusan berbasis data," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Juda juga menekankan pentingnya hasil konkret dari Forum Asset Strategist DJKN 2026 yang mengusung tema "Dua Dasawarsa DJKN, Akselerasi Pengelolaan Kekayaan Negara".

Dia berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi dan penyampaian gagasan. Setiap keputusan strategis harus memiliki tindak lanjut yang jelas, termasuk penanggung jawab, target waktu, serta hasil yang bisa dievaluasi.

Menurut Juda, akselerasi bukan semata-mata bekerja lebih cepat. Hal yang jauh lebih penting adalah kemampuan mengambil keputusan yang tepat dan menghasilkan dampak lebih besar bagi negara.

Juda optimistis DJKN memiliki kemampuan untuk menjalankan transformasi tersebut. Dia mengajak seluruh jajaran menjadikan momentum 20 tahun perjalanan DJKN sebagai titik awal memperkuat kolaborasi dan mempercepat perubahan.

"Jika 20 tahun pertama adalah masa membangun fondasi, maka 20 tahun berikutnya harus menjadi masa penciptaan nilai (value creation)," pungkasnya.

(RBT/MAM)

← Kembali ke Daftar