Janji Mentan Amran Cuma Hitungan Jam, Alsintan Langsung Tiba di Tangan Buruh Tani Karawang
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 01 Sep 2026 23:13
FOTO: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membuktikan janjinya kepada para buruh tani di Kabupaten Karawang. Dok. M. Digi
KARAWANG, KabarPemerintah.com — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membuktikan janjinya kepada para buruh tani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Hanya dalam hitungan jam setelah bantuan dijanjikan, alat dan mesin pertanian (alsintan) langsung tiba dan diterima kelompok buruh tani di Desa Tegal Sawah, Kecamatan Karawang Timur.
Bantuan yang diberikan berupa combine harvester untuk mendukung kegiatan panen. Selain itu, Amran memastikan traktor milik kelompok tani yang hilang dicuri pada malam 17 Agustus 2026 akan segera diganti.
Langkah cepat tersebut dilakukan setelah Amran menemukan langsung persoalan yang dihadapi buruh tani saat melakukan kunjungan kerja di Karawang.
Dalam kunjungan itu, Amran sempat menghentikan kendaraannya setelah melihat sejumlah buruh tani tengah bekerja di sawah. Ia kemudian turun dan berbincang dengan mereka.
Dari percakapan tersebut diketahui sebagian buruh tani tidak memiliki lahan sendiri. Mereka hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh ngarit maupun tenaga panen dengan kesempatan kerja yang terbatas.
"Di tengah jalan kami menemukan buruh ngarit. Itu dapat berapa? Hanya Rp30 ribu per hari, dan itu dua kali seminggu, maksimal tiga kali seminggu," kata Amran.
Menurut Amran, kondisi tersebut membuat penghasilan buruh tani sangat minim. Jika dalam sepekan hanya memperoleh Rp60 ribu, pendapatan mereka dalam sebulan diperkirakan hanya sekitar Rp240 ribu.
"Bisa bayangkan pendapatannya Rp30 ribu, Rp60 ribu per minggu karena dua kali seminggu. Kalau Rp60 ribu per minggu, kalau satu bulan berarti Rp240 ribu. Bayangkan itu satu keluarga," ujarnya.
Persoalan tersebut kemudian mendorong Kementerian Pertanian mengubah aturan terkait penerima bantuan alsintan. Buruh tani yang tidak mempunyai sawah kini diberikan akses untuk mendapatkan alat pertanian.
"Regulasi kami ubah. Sudah kami ubah, sudah kami tanda tangani. Prioritaskan alat mesin pertanian, pompa dan seterusnya kepada buruh tani yang tidak punya sawah supaya kesejahteraannya meningkat," tegas Amran.
Ia menilai bantuan alsintan tidak seharusnya hanya digunakan untuk membantu pekerjaan kelompok. Alat tersebut juga dapat dikembangkan menjadi usaha bersama yang menghasilkan pendapatan tambahan.
Combine harvester yang diberikan, misalnya, dapat disewakan kepada petani lain ketika tidak digunakan oleh kelompok penerima bantuan.
"Ini nanti dipakai dan disewakan ke masyarakat. Bisa lima hektare, sepuluh hektare satu hari," kata Amran.
Amran juga memastikan traktor kelompok tani yang hilang dicuri akan diganti.
"Kalau tidak dapat, digantikan. Hilang, sudah. Nanti kita ganti," ujarnya.
Instruksi tersebut langsung ditindaklanjuti jajaran Kementerian Pertanian. Dalam waktu singkat, bantuan combine harvester tiba di lokasi dan diserahkan kepada kelompok buruh tani.
Kedatangan bantuan itu disambut antusias para petani. Julaiha, salah satu buruh tani Desa Tegal Sawah, mengaku bersyukur karena keluhan mengenai alat pertanian mendapat respons cepat dari pemerintah.
"Bapak tadi langsung datang combine, kemudian langsung juga mau mengganti alat tani saya yang hilang pas 17 Agustus malamnya. Insyaallah mau diganti," ujar Julaiha.
Menurutnya, keberadaan alat tersebut akan membantu meringankan pekerjaan sekaligus meningkatkan produktivitas buruh tani.
"Mudah-mudahan dengan adanya alat jadi lebih produktif. Lebih semangat lagi buat kami di sini," katanya.
Julaiha turut menyampaikan terima kasih kepada Mentan Amran dan Presiden Prabowo Subianto atas perhatian yang diberikan kepada petani dan buruh tani.
Amran menegaskan pemberian alsintan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah menjalankan arahan Presiden Prabowo untuk mempercepat transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian modern.
"Atas arahan Bapak Presiden, bagaimana transformasi pertanian tradisional menuju modern dirasakan oleh rakyat kecil dan sampai ke pelosok. Kami turun tangan langsung," kata Amran.
Ia menekankan bahwa modernisasi pertanian harus memberikan manfaat secara merata, termasuk kepada buruh tani yang selama ini tidak memiliki lahan maupun alat produksi.
"Yang diprioritaskan yang tidak punya alat. Buruh tani boleh dapat traktor, boleh dapat combine," tegasnya.
Amran meminta agar alsintan yang diterima kelompok dikelola secara bersama dan hasilnya dibagikan secara adil kepada seluruh anggota.
"Bagi hasil, bagi rata. Semua ikut. Jangan ada yang ditinggal," pesannya.
Menurut Amran, kebijakan tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil di sektor pertanian. Ia ingin modernisasi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka peluang usaha dan memperbaiki kesejahteraan buruh tani.
"Kita mau ini pemerataan. Kita mau semua anak bangsa, khususnya sektor petani, merasakan kehadiran pemerintah," pungkasnya.
(RBT/YD)
← Kembali ke Daftar