Inflasi Sumenep April 2026 Tembus 4,13 Persen, Harga Emas dan Pangan Jadi Pemicu
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 02 Jun 2026 11:34
FOTO: Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo, SST. Dok. Kabar Pemerintah
SUMENEP, Kabar pemerintah.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,13 persen pada April 2026. Angka tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,40 pada April 2025 menjadi 116,00 pada April 2026.
Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo, SST, mengatakan kenaikan harga masih terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Kondisi tersebut menjadi faktor utama yang mendorong inflasi tahunan di Kota Keris.
"Inflasi terjadi karena sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga," kata Handoyo dalam rilis resmi BPS Sumenep.
Berdasarkan data BPS, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan mencapai 17,38 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,81 persen.
Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3 persen, pendidikan 2,45 persen, rekreasi dan budaya 2,24 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,97 persen.
Di tengah kenaikan tersebut, kelompok transportasi justru mengalami deflasi tahunan sebesar 0,16 persen.
Handoyo menjelaskan, sejumlah komoditas yang paling besar menyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, rokok kretek mesin, beras, ikan tongkol, nasi dengan lauk, daging ayam ras, minyak goreng, daging sapi, telur ayam ras, hingga tarif air minum.
Dari berbagai komoditas tersebut, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar. Komoditas ini memberikan andil inflasi hingga 1,64 persen atau hampir separuh dari total inflasi tahunan yang terjadi di Sumenep.
Selain mencatat inflasi tahunan, BPS juga merekam deflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,40 persen pada April 2026. Sementara inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,92 persen.
Deflasi bulanan dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan, terutama cabai rawit, daging ayam ras, cumi-cumi, telur ayam ras, beras, dan kelapa.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar kedua setelah kelompok perawatan pribadi. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 1,68 persen, terutama dipicu kenaikan harga beras, ikan tongkol, daging ayam ras, minyak goreng, dan produk rokok.
Meski demikian, beberapa komoditas seperti bawang putih, bawang merah, kelapa, cumi-cumi, wortel, serta angkutan antarkota turut membantu menahan laju inflasi karena mengalami penurunan harga.
Secara umum, kondisi harga di Kabupaten Sumenep sepanjang April 2026 masih menunjukkan tren kenaikan dibanding tahun lalu. Namun turunnya harga sejumlah bahan pangan strategis membuat tekanan inflasi pada bulan tersebut tidak semakin tinggi.
(MAM/RED)
← Kembali ke Daftar