IHSG Tersungkur ke Titik Terendah Lima Tahun, Anjlok 35 Persen Sejak Awal 2026 Saat Bursa Global Menguat
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 05 Jun 2026 14:00
FOTO: Ilustrasi Grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Dan Pasar Saham. Dok. Istimewa
JAKARTA, Kabar pemerintah.com – Pasar saham Indonesia kembali menghadapi tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.594,77 pada perdagangan Jumat (5/6/2026), sekaligus menjadi posisi terendah dalam lima tahun terakhir.
Koreksi yang terjadi tidak hanya berlangsung dalam jangka pendek. Sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD), IHSG tercatat telah merosot sekitar 35,3 persen, menjadikannya salah satu bursa dengan performa terburuk di antara sejumlah negara yang dipantau sepanjang periode Januari hingga awal Juni 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi ketika banyak indeks saham utama dunia justru bergerak ke zona positif. Sejumlah bursa di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat masih mampu mencatatkan penguatan di tengah berbagai tantangan ekonomi global.
Analis menilai tekanan terhadap pasar domestik dipengaruhi kombinasi berbagai faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi, hingga arus keluar modal asing yang masih berlangsung.
Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga berada dalam tekanan. Data pasar menunjukkan kurs dolar Amerika Serikat sempat menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS, menambah sentimen negatif terhadap aset berisiko di dalam negeri.
Meski demikian, sejumlah indikator ekonomi nasional masih menunjukkan ketahanan. Inflasi tahunan pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini masih berada di atas 5 persen.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan pemerintah dan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan serta memulihkan kepercayaan investor. Pergerakan IHSG dalam beberapa pekan ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi global, arah kebijakan suku bunga, serta perkembangan nilai tukar rupiah.
Dengan penurunan lebih dari sepertiga nilainya hanya dalam waktu lima bulan, 2026 menjadi salah satu periode paling berat bagi pasar modal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Investor pun kini mencermati apakah IHSG mampu menemukan titik balik atau justru masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan.
(RMN/YD)
← Kembali ke Daftar