Hilirisasi Digenjot, Gambir RI Diproyeksi Jadi Sumber Ekonomi Baru
Ditulis oleh herman - 16 Apr 2026 05:14
FOTO: Kunjungan Menteri Amran Sulaiman ke Padang Dok.Kementrian Pertanian
PADANG, KabarPemerintah.com - Tanda-tanda kebangkitan komoditas gambir nasional mulai terlihat. Langkah hilirisasi yang didorong Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dinilai sebagai strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global. Kebijakan ini pun menumbuhkan harapan baru, khususnya bagi para petani di daerah sentra produksi seperti Sumatera Barat.
Pengamat dari Universitas Andalas menilai langkah pemerintah ini bukan sekadar wacana, melainkan strategi matang untuk membenahi industri gambir dari hulu hingga hilir. Akademisi Muhammad Makky menyebut kebijakan tersebut disusun dalam tahapan jelas yang berorientasi bisnis dan keberlanjutan.
“Konsepnya terstruktur, dimulai dari pembukaan pasar, penguatan bahan baku, hingga pengembangan industri dan produk turunan. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah,” ujarnya saat ditemui di Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/4/2026).
Pada tahap awal, pemerintah fokus membuka akses ekspor langsung melalui kolaborasi BUMN dengan eksportir lokal. Skema ini diharapkan mampu memangkas rantai distribusi yang selama ini panjang. Dengan peran koperasi desa sebagai pemasok langsung ke BUMN, margin keuntungan yang sebelumnya tergerus di tengah rantai perdagangan bisa kembali dinikmati petani.
Makky menilai, penyederhanaan rantai pasok menjadi kunci untuk menekan disparitas harga. “Petani bisa memperoleh harga yang lebih adil. Ini langkah penting untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” katanya.
Memasuki tahap berikutnya, hilirisasi akan diperkuat lewat pengembangan industri pengolahan, termasuk produksi gambir premium. Upaya ini dibarengi dengan intensifikasi lahan serta perbaikan budidaya tanaman yang selama ini kurang optimal akibat fluktuasi harga.
Tak berhenti di situ, pemerintah juga mendorong pengembangan produk turunan bernilai tinggi seperti katekin dan tanin. Kedua komoditas ini memiliki pasar luas di berbagai sektor, mulai dari kosmetik, pakan ternak, hingga industri kulit dan tekstil ramah lingkungan.
Menurut Makky, potensi pasar gambir kini tak lagi terbatas pada India. Negara seperti Malaysia, Korea, hingga Taiwan mulai menunjukkan permintaan yang meningkat, terutama untuk kebutuhan industri berbasis bahan alami.
Dari sisi implementasi, program ini ditargetkan mulai berjalan pada 2026 dengan ekspor perdana sebagai langkah awal. Pemerintah memilih pendekatan bertahap untuk memastikan kesiapan pasar, pasokan, dan kualitas produk sebelum ekspansi lebih luas.
Sebagai mitra strategis, Universitas Andalas turut terlibat dalam kajian kelayakan, analisis pasar, serta pendampingan koperasi desa agar mampu memenuhi standar ekspor. Peran akademisi dinilai krusial untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan program.
Makky menegaskan, kebijakan ini berpotensi menjadi momentum kebangkitan gambir nasional, khususnya di Sumatera Barat sebagai sentra produksi. “Dengan kolaborasi yang kuat, gambir bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru,” ucapnya.
Sementara itu, Mentan Amran menekankan bahwa hilirisasi menjadi kunci peningkatan nilai tambah komoditas. Ia menyebut Sumatera Barat memiliki potensi besar yang belum tergarap optimal.
“Komoditas lain seperti sawit sudah lebih dulu berkembang melalui hilirisasi. Gambir punya peluang yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan petani jika dikelola dengan serius,” kata Amran.
(FS/YD)
← Kembali ke Daftar