Hari Susu Nusantara 2026, Pemerintah Perkuat Industri Susu Nasional untuk Dukung Generasi Emas
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 07 Jun 2026 00:36
FOTO: Wakil Menteri Pertanian Sudaryono saat menghadiri peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 di Ragunan, Jakarta Selatan. Dok. Kementan/M.Digi
JAKARTA, KabarPemerintah.com– Pemerintah terus menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat industri persusuan nasional. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan populasi sapi perah, produksi susu dalam negeri, hingga mendorong masyarakat, khususnya anak-anak, untuk lebih rutin mengonsumsi susu.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Komitmen itu disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono saat menghadiri peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 di Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Sudaryono, susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki banyak manfaat bagi tumbuh kembang anak. Kandungan gizinya berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik maupun perkembangan kecerdasan.
"Protein dalam susu sangat baik untuk pertumbuhan anak. Selain membantu perkembangan fisik, juga mendukung kemampuan belajar dan kesehatan secara keseluruhan," ujarnya.
Pria yang akrab disapa Mas Dar itu menegaskan bahwa pembangunan sektor persusuan tidak semata-mata soal ekonomi dan produksi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Ia mengatakan, pemerintah saat ini fokus pada dua target utama, yakni meningkatkan produksi susu nasional dan memperluas konsumsi susu masyarakat.
"Produksi susu dalam negeri masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Karena itu, populasi sapi perah harus ditambah. Di sisi lain, konsumsi susu masyarakat juga perlu terus didorong, terutama untuk anak-anak," katanya.
Kekurangan Sapi Perah Jadi Tantangan
Sudaryono mengakui salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masih terbatasnya jumlah sapi perah produktif. Menurutnya, teknologi reproduksi dan ketersediaan bibit sudah cukup memadai, namun jumlah ternak hidup masih perlu ditingkatkan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mendorong masuknya investasi dari sektor swasta maupun BUMN guna mendatangkan sapi perah dari berbagai negara.
Sejumlah investor bahkan telah menyatakan komitmen untuk mengembangkan peternakan sapi perah dengan kapasitas ribuan hingga puluhan ribu ekor di Indonesia.
"Kita membutuhkan lebih banyak sapi perah agar produksi susu meningkat. Karena itu pemerintah terus membuka peluang investasi dan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan sektor ini," jelasnya.
Kembangkan Sentra Susu di Daerah Sejuk
Pengembangan sapi perah akan difokuskan di wilayah yang memiliki iklim lebih sejuk seperti Lembang, Boyolali, Baturaden, Pasuruan, dan Blitar. Daerah-daerah tersebut dinilai memiliki kondisi yang lebih ideal untuk mendukung produktivitas sapi perah.
Selain itu, pemerintah juga sedang menjajaki pengembangan sapi perah tropis asal Brasil yang dianggap lebih mampu beradaptasi dengan kondisi iklim Indonesia.
Menurut Sudaryono, yang terpenting adalah meningkatkan jumlah sapi perah agar produksi susu nasional terus bertambah dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Peluang Besar dari Program MBG
Pemerintah juga membuka pintu investasi seluas-luasnya bagi pelaku usaha dalam maupun luar negeri. Berbagai kemudahan perizinan dan insentif disiapkan untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.
Saat ini Indonesia telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara seperti Australia, Brasil, Selandia Baru, Denmark, dan beberapa negara Eropa lainnya untuk mendukung pengembangan industri peternakan.
Sudaryono optimistis sektor persusuan nasional memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Selain didukung oleh jumlah penduduk yang besar, kebutuhan susu diperkirakan akan terus meningkat seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
"Pasar susu di Indonesia sangat besar. Dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis, kebutuhan susu akan semakin meningkat. Ini menjadi peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan industri persusuan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak," pungkasnya.
(RMN/MAM)
← Kembali ke Daftar