Harga Minyak Dunia Naik, Wamenkeu Juda Agung Pastikan Fiskal RI Tetap Aman dan Terkendali
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 19 May 2026 11:31
FOTO: Wamen Juda Agung Dalam forum diskusi POV Talks di Jakarta Dok. Kemenkeu/Zalfa' Dhiaulhaq
JAKARTA, KabarPemerintah.com – Pemerintah memastikan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam jalur aman meski tekanan ekonomi global dan ketegangan geopolitik terus meningkat. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga berkat disiplin fiskal yang diterapkan pemerintah.
Dalam forum diskusi POV Talks di Jakarta, Senin (18/5), Juda mengungkapkan salah satu tantangan terbesar saat ini berasal dari kenaikan harga minyak dunia. Menurutnya, lonjakan harga minyak memiliki dampak langsung terhadap anggaran negara.
Ia menjelaskan, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dolar Amerika Serikat per barel dapat menambah tekanan terhadap defisit fiskal hingga Rp6,8 triliun. Meski begitu, pemerintah memilih tetap mempertahankan harga BBM subsidi agar daya beli masyarakat tidak terpukul dan inflasi tetap terkendali.
“Strategi pemerintah saat ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat, namun tetap dijalankan dengan disiplin fiskal,” kata Juda.
Untuk menjaga keseimbangan APBN, pemerintah disebut melakukan efisiensi besar-besaran terhadap belanja yang dianggap kurang prioritas dan tidak memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk menutup tambahan beban fiskal akibat gejolak harga energi global.
Dengan berbagai kebijakan tersebut, pemerintah optimistis defisit APBN 2026 tetap bisa dijaga di kisaran 2,94 persen atau masih di bawah batas maksimal 3 persen sesuai ketentuan undang-undang.
Juda juga menegaskan pemerintah kini lebih fokus pada belanja produktif yang memiliki efek berantai besar terhadap perekonomian nasional. Beberapa program prioritas yang terus didorong antara lain Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hilirisasi industri, serta penguatan sektor manufaktur nasional.
Menurutnya, program MBG bukan hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mampu mendorong permintaan bahan pangan domestik, meningkatkan produktivitas petani, hingga membuka lapangan kerja baru.
Selain itu, pemerintah juga memastikan kondisi cadangan fiskal Indonesia masih cukup kuat. Saat ini, Indonesia memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang dapat digunakan sebagai bantalan fiskal dalam kondisi darurat.
Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghadapi situasi tak terduga seperti bencana alam, stabilisasi ekonomi, hingga menjadi instrumen penahan guncangan saat ekonomi global melambat.
Di akhir pemaparannya, Juda meminta masyarakat tidak menyamakan kondisi ekonomi saat ini dengan krisis 1998. Ia menilai fondasi sektor keuangan Indonesia kini jauh lebih kokoh dibanding masa lalu.
“Sektor perbankan sekarang lebih kuat, pengawasannya ketat, dan korporasi juga dibatasi dalam melakukan pinjaman luar negeri agar tidak terjadi risiko utang berlebihan,” jelasnya.
(RBT/MAM)
← Kembali ke Daftar