Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon, Indonesia Desak Evaluasi Total Keamanan Pasukan Perdamaian PBB
Ditulis oleh herman - 06 Apr 2026 02:13
FOTO: Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan kepada awak media di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, 4 April 2026. Dok. Setpres/Cahyo
TANGGERANG, KabarPemerintah.com - Pemerintah Indonesia menyampaikan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit terbaik bangsa saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon. Ketiganya merupakan bagian dari pasukan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang bertugas menjaga stabilitas di kawasan konflik.
Tiga prajurit yang gugur yakni Mayor Inf. Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadon. Kepergian mereka meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada awak media di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Sabtu (4/4/2026).
“Kita semua berduka. Semoga para kusuma bangsa ini mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ujarnya.
Tak hanya korban jiwa, pemerintah juga mengonfirmasi adanya tiga prajurit lainnya yang mengalami luka-luka. Hingga kini, penyebab insiden masih dalam proses investigasi oleh pihak UNIFIL.
Merespons kejadian tersebut, Indonesia langsung bergerak di jalur diplomasi. Melalui Perwakilan Tetap di New York, Indonesia meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar rapat darurat untuk membahas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.
Permintaan itu mendapat dukungan dari Prancis sebagai penanggung jawab isu Lebanon di Dewan Keamanan.
Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan dua sikap tegas: mengutuk keras serangan terhadap pasukan perdamaian serta mendesak investigasi menyeluruh atas insiden yang terjadi.
Menurut Sugiono, serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak bisa ditoleransi. Ia menekankan bahwa misi mereka bukan untuk berperang, melainkan menjaga stabilitas.
“Pasukan ini adalah peacekeeping, bukan peacemaking. Mereka tidak dipersenjatai untuk menyerang, tetapi untuk menjaga perdamaian sesuai mandat PBB,” tegasnya.
Lebih jauh, Indonesia mendorong evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah konflik, khususnya dalam misi UNIFIL di Lebanon. Evaluasi ini dinilai penting untuk memastikan keselamatan personel yang bertugas di garis depan perdamaian dunia.
Langkah tegas pemerintah ini menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak hanya berduka, tetapi juga mengambil peran aktif dalam mendorong perubahan global. Pengorbanan para prajurit diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian di masa mendatang.
Di tengah suasana duka, pesan yang disampaikan pemerintah tetap jelas: negara hadir, menghormati jasa para prajurit, dan berkomitmen melindungi setiap anak bangsa yang mengemban tugas mulia demi terciptanya perdamaian dunia.
(MAM/YD)
← Kembali ke Daftar