Logo Kabarpemerintah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) konsisten per 9 Juni sempat naik sekitar 4,8% ke level 5.599 dan bergerak di rentang 5.318–5.628.

Tulisan "Turunkan Harga Kami Lapar Cok" Muncul di Sejumlah Titik Kota Malang, Cerminan Keresahan Warga

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 13 Jun 2026 08:55

Tulisan "Turunkan Harga Kami Lapar Cok" Muncul di Sejumlah Titik Kota Malang, Cerminan Keresahan Warga

FOTO: Sejumlah tulisan hiasi tembok di berbagai sudut Kota Malang. Dok. Istimewa

MALANG, KabarPemerintah.com – Sejumlah tembok di berbagai sudut Kota Malang, Jawa Timur, mendadak dipenuhi Tulisan "Turunkan Harga Kami Lapar Cok". Tulisan bernada protes tersebut menjadi perhatian masyarakat karena muncul di tengah meningkatnya keluhan warga terkait tingginya biaya hidup dan harga kebutuhan pokok.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Tulisan serupa ditemukan di sejumlah lokasi, mulai dari kawasan Purwantoro, Tulusrejo, Tungguwulung, Cengger Ayam, Jalan Industri Barat Purwantoro hingga wilayah Kecamatan Klojen. Coretan tersebut terlihat pada dinding-dinding yang berada di jalur strategis dan mudah dilihat oleh pengguna jalan.

Kemunculan tulisan itu memicu beragam respons dari masyarakat. Banyak warga menilai tulisan tersebut menggambarkan kondisi yang saat ini dirasakan sebagian kalangan, terutama di tengah meningkatnya harga sejumlah kebutuhan pokok dan biaya hidup.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras, cabai, minyak goreng, telur, serta sejumlah kebutuhan rumah tangga lainnya menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut turut diperberat oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berdampak pada meningkatnya biaya transportasi dan distribusi barang.

Seorang pedagang kaki lima di kawasan Pasar Besar Malang mengaku pengeluaran rumah tangganya terus bertambah seiring kenaikan harga berbagai kebutuhan.

"Kami kerja setiap hari, tapi uang belanja rasanya makin tidak cukup. Harga kebutuhan naik terus, begitu juga biaya transportasi. Tulisan di tembok itu mungkin mewakili perasaan banyak orang," ujarnya kepada wartawan, Senin (14/4/2026).

Bagi sebagian warga, Tulisan tersebut bukan sekadar coretan di ruang publik. Pesan yang disampaikan dianggap sebagai bentuk ungkapan keresahan masyarakat yang merasakan langsung dampak tekanan ekonomi.

Penggunaan kata "cok", yang merupakan istilah populer dalam percakapan masyarakat Jawa Timur, dinilai semakin memperkuat kesan bahwa pesan tersebut lahir dari kalangan akar rumput dan menggunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab atas pembuatan tulisan tersebut. Namun keberadaannya telah memicu berbagai tanggapan di media sosial maupun menjadi bahan diskusi di tengah masyarakat.

Di sisi lain, beberapa tulisan dilaporkan mulai dibersihkan oleh aparat setempat. Meski demikian, pesan yang telah tersebar luas itu terlanjur menarik perhatian publik dan menjadi perbincangan di berbagai kalangan.

Aktivis mahasiswa Malang, Rizal, menilai kemunculan grafiti tersebut menunjukkan adanya keresahan yang sedang dirasakan masyarakat.

"Fenomena ini menunjukkan bahwa keresahan masyarakat terhadap tekanan ekonomi tidak hanya disampaikan melalui forum-forum resmi, tetapi juga muncul dalam bentuk ekspresi spontan di ruang publik," kata Rizal.

Menurutnya, tulisan yang muncul di sejumlah titik strategis membuat pesan tersebut mudah dilihat dan menjadi perhatian banyak orang. Ia menilai keberadaan tulisan itu menjadi simbol kegelisahan sebagian masyarakat terhadap meningkatnya biaya hidup yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

"Terlepas dari polemik yang muncul, tulisan 'Turunkan Harga Kami Lapar Cok' kini telah menjadi salah satu potret suara publik yang muncul di ruang terbuka, sekaligus menggambarkan dinamika sosial dan ekonomi yang tengah dirasakan sebagian warga Kota Malang". Pungkasnya

(RSH/MAM)

← Kembali ke Daftar