Logo Kabarpemerintah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,69% ke level 6.365,37 pada perdagangan Senin (10/8). Sempat menyentuh level tertinggi di 6.462,74, pergerakan indeks hari ini (11/8) diproyeksikan masih dibayangi koreksi terbatas dengan area support di kisaran 6.300.

Era AI Makin Canggih, Bos OpenAI Ingatkan Perusahaan soal Ancaman Serangan Siber

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 20 Aug 2026 00:31

Era AI Makin Canggih, Bos OpenAI Ingatkan Perusahaan soal Ancaman Serangan Siber

FOTO: Greg Brockman Presiden sekaligus salah satu pendiri OpenAI. Dok. Istimewa

JAKARTA, KabarPemerintah.com– Kecerdasan buatan (AI) kini berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan. Di balik berbagai manfaatnya, teknologi ini juga membuka peluang baru bagi pelaku serangan siber.

Presiden sekaligus salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman, meminta perusahaan mulai bersiap menghadapi perubahan tersebut. Menurut dia, sistem pertahanan digital harus diperkuat karena AI memungkinkan pencarian celah keamanan dilakukan dengan cara yang semakin cepat dan otomatis.

Brockman menilai perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan pola keamanan siber yang selama ini digunakan. Organisasi harus melakukan perubahan mendasar, terutama dalam meningkatkan kemampuan deteksi dan respons terhadap ancaman.

"Saya telah berbicara dengan banyak organisasi selama beberapa minggu terakhir, dan satu tema terlihat jelas: mereka tahu bahwa mereka perlu meningkatkan praktik keamanan siber secara fundamental dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis Brockman dalam blog pribadinya, dikutip dari Business Insider, Selasa (18/8/2026).

Kasus Hugging Face Jadi Alarm

Peringatan tersebut muncul setelah OpenAI mengungkap hasil pengujian terhadap salah satu agen AI-nya pada Juli 2026.

Dalam pengujian internal itu, agen AI disebut mampu keluar dari lingkungan pengujian. Sistem tersebut kemudian berhasil menyusupi Hugging Face, sebuah platform yang digunakan komunitas pengembang untuk membagikan, menerbitkan, dan mengunduh berbagai model AI.

Bagi Brockman, kejadian tersebut memperlihatkan perubahan penting dalam dunia keamanan digital. AI tidak hanya dapat digunakan untuk membantu manusia, tetapi juga berpotensi mempercepat proses pencarian kelemahan sebuah sistem.

Kemampuan AI dalam menemukan kerentanan diperkirakan akan semakin kuat seiring berkembangnya teknologi.

Namun, Brockman tidak melihat AI semata-mata sebagai ancaman. Menurutnya, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan perusahaan untuk menemukan kelemahan sekaligus memperbaikinya sebelum celah tersebut digunakan penyerang.

"AI juga akan membuat jauh lebih mudah untuk memperbaiki celah keamanan guna mencegah serangan," tulisnya.

Defender Harus Bergerak Lebih Cepat

Brockman kemudian mendorong perusahaan menjadikan kasus tersebut sebagai peringatan untuk segera membenahi pertahanan digital.

Ia menyebut organisasi perlu mempercepat penerapan otomatisasi dalam sistem keamanan. Langkah tersebut dinilai penting karena ancaman berbasis AI dapat berkembang dalam waktu yang jauh lebih cepat dibandingkan pendekatan keamanan tradisional.

Brockman bahkan menyertakan 10 langkah yang dinilainya perlu menjadi perhatian perusahaan dalam menghadapi ancaman siber.

"Waktu sangatlah penting, dan para defender perlu menjalankan langkah-langkah di bawah ini dengan kecepatan turbo," ujarnya.

Menurutnya, perubahan tersebut tidak bisa ditunda terlalu lama. Dalam beberapa bulan ke depan, organisasi perlu meningkatkan otomatisasi program keamanan secara signifikan.

"Dalam beberapa bulan mendatang, setiap organisasi perlu mulai mengotomatisasi program keamanan mereka secara signifikan agar tetap aman," jelas Brockman.

Ia juga meminta komunitas keamanan siber bekerja lebih cepat dalam menciptakan perangkat, prosedur, dan strategi pertahanan baru.

Sebab, jika kemampuan AI yang dimanfaatkan penyerang berkembang lebih cepat dibandingkan pertahanan, kesenjangan tersebut dapat meningkatkan risiko serangan terhadap berbagai sistem digital.

"Komunitas keamanan harus segera bangkit untuk menentukan perangkat, praktik, dan playbook yang akan meningkatkan kekuatan para defender lebih cepat daripada para attacker seiring AI terus berkembang," kata Brockman.

Peringatan tersebut menjadi gambaran bahwa persaingan di era AI bukan hanya mengenai siapa yang mampu menciptakan teknologi paling pintar. Kemampuan menjaga sistem tetap aman dan merespons celah keamanan dengan cepat juga akan menjadi bagian penting dari perkembangan teknologi ke depan.

(RSH/MAM)

← Kembali ke Daftar