Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global, Tumbuh 5,11% Sepanjang 2025
Ditulis oleh herman - 15 Apr 2026 13:56
FOTO: Airlangga Hartarto Menteri Perekonomian IG:airlanggahartarto_official
JAKARTA, KabarPemerintah.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 terbilang masih solid. Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,11 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan global yang hanya berkisar 2,6 hingga 3,3 persen menurut IMF, OECD, dan World Bank.
Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan performa ekonomi terbaik di kelompok G20. Kekuatan pasar domestik masih menjadi penopang utama, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Konsumsi masyarakat tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Daya beli pun relatif terjaga, terlihat dari Mandiri Spending Index yang masih berada di level kuat, yakni 360,7.
Dari sektor pangan, produksi beras nasional hampir mencapai 34,7 juta ton. Cadangan beras pemerintah melalui Bulog juga mendekati 4,6 juta ton, mencerminkan ketahanan pangan yang cukup kuat. Sementara di sektor energi, pemerintah terus mendorong kemandirian lewat program B50, dengan catatan surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan optimisme terhadap prospek ekonomi ke depan. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 bisa melampaui 5,3 persen, dengan kuartal pertama diproyeksikan mencapai 5,5 persen.
“Memasuki triwulan II, kondisi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Inflasi terkendali, surplus perdagangan berlanjut, dan kepercayaan konsumen tetap tinggi,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, sektor manufaktur masih berada di fase ekspansi dengan indeks 50,1. Cadangan devisa tercatat sebesar USD148,2 miliar, sementara sektor perbankan tetap stabil dengan tingkat permodalan yang kuat.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, nikel, dan tembaga mencapai USD47 miliar. Angka ini membantu meredam tekanan dari sektor minyak dan gas. Di sisi lain, APBN tetap berperan sebagai bantalan ekonomi melalui berbagai program bantuan dan subsidi senilai Rp11,92 triliun. Defisit anggaran pun masih terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB hingga Maret 2026.
Transaksi mata uang lokal juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sepanjang 2025, nilainya mencapai USD25,6 miliar atau melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Sejumlah negara seperti Malaysia, Jepang, hingga China telah mulai menggunakan sistem pembayaran QRIS Indonesia.
Perbaikan juga terlihat dari indikator sosial. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, pengangguran menjadi 4,7 persen, dan rasio gini menyempit ke 0,363. Sepanjang 2025, realisasi investasi bahkan mampu menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.
Program hilirisasi yang didorong Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu penggerak utama investasi. Nilai investasi di sektor ini mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen secara tahunan, dengan kontribusi lebih dari 30 persen terhadap total investasi nasional.
Pemerintah juga terus membenahi iklim usaha melalui reformasi regulasi dan digitalisasi perizinan. Langkah ini diharapkan mampu memperluas peluang investasi, termasuk di sektor strategis seperti energi dan ekonomi digital.
Di tingkat global, Indonesia aktif memperkuat kerja sama ekonomi dengan berbagai kawasan serta meningkatkan peran di forum internasional seperti ASEAN, RCEP, dan BRICS.
Menutup pernyataannya, Airlangga menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi tujuan menarik bagi investor global, khususnya di sektor digital seperti pusat data dan teknologi masa depan.
“Dengan potensi pasar yang besar, energi yang kompetitif, serta perkembangan digital yang pesat, Indonesia tetap menjadi magnet bagi investor,” pungkasnya.
(FS/MAM)
← Kembali ke Daftar