Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Rupiah Masih Bertahan di Level Rp17.900 per Dolar AS
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 11 Jun 2026 08:28
FOTO: Kementerian keuangan Purbaya Yudi Sadewa rapat bersama DPR RI. Dok. Kemenkeu/wismu Nanda
JAKARATA, KabarPemerintah.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi, kondisi perekonomian Indonesia dinilai tetap cukup tangguh. Pemerintah melihat sejumlah indikator utama menunjukkan arah positif, mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, hingga membaiknya aktivitas konsumsi masyarakat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mampu tumbuh 5,61 persen. Capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa aktivitas ekonomi domestik masih bergerak stabil meski tekanan dari luar negeri belum sepenuhnya mereda.
Selain pertumbuhan yang terjaga, inflasi nasional pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan. Di saat yang sama, neraca perdagangan masih mencatat surplus dan cadangan devisa dinilai cukup kuat untuk menopang kebutuhan impor serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, sektor manufaktur juga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Perbaikan yang terjadi selama Mei 2026 dianggap sebagai sinyal positif karena mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi di dalam negeri.
"Kondisi ini menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya," ujarnya saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Daya Beli dan Aktivitas Ekonomi Menguat
Memasuki triwulan II 2026, pemerintah melihat optimisme masyarakat masih terjaga. Hal itu terlihat dari meningkatnya aktivitas belanja konsumen yang tercermin dalam berbagai indikator ekonomi.
Penjualan mobil dan sepeda motor mengalami peningkatan. Konsumsi listrik rumah tangga maupun industri juga tumbuh, begitu pula permintaan semen yang biasanya menjadi salah satu indikator pergerakan sektor konstruksi dan pembangunan.
Kondisi tersebut menunjukkan roda perekonomian nasional masih bergerak dan ditopang oleh permintaan domestik yang relatif kuat.
Rupiah Masih Menghadapi Tekanan
Meski berbagai indikator ekonomi menunjukkan hasil positif, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan akibat sentimen global dan sikap hati-hati investor di pasar keuangan internasional.
Hingga awal Juni 2026, kurs rupiah berada di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan bahwa mata uang Garuda masih menghadapi tantangan eksternal, terutama akibat gejolak ekonomi dunia dan pergerakan modal global.
Namun demikian, pemerintah tetap optimistis tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama. Koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan diyakini mampu menjaga stabilitas pasar serta memperkuat nilai tukar secara bertahap.
Pemerintah juga terus mendorong penguatan devisa hasil ekspor dan pendalaman pasar keuangan domestik guna meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri.
Investor Mulai Kembali Melirik Indonesia
Di sektor keuangan, arus modal asing mulai menunjukkan tren yang lebih baik sepanjang triwulan II 2026. Investor tercatat kembali masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Meski pasar saham masih mengalami arus keluar dana asing, minat terhadap instrumen investasi domestik secara keseluruhan dinilai tetap terjaga.
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak dan pangan, memastikan ketersediaan energi serta beras, mempercepat realisasi belanja negara, hingga menyiapkan berbagai stimulus guna menjaga daya beli masyarakat.
Dengan fondasi ekonomi yang dinilai cukup kuat, pemerintah optimistis Indonesia mampu menghadapi tantangan global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada pada jalur positif hingga tahun 2027.
(RMN/YD)
← Kembali ke Daftar