Logo Kabarpemerintah
Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Hilirisasi Jadi Jalan Indonesia Menuju Kemakmuran. Komitmen Pendidikan Nasional, Presiden Prabowo Subianto Targetkan Sekolah Modern dan Berbasis Teknologi Rampung 2028. Dari MBG hingga Koperasi Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto Dorong Arus Ekonomi Kembali ke Rakyat.

Dunia Waspada! Rusia Uji Coba Rudal Sarmat dan Drone Nuklir Poseidon

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 14 May 2026 23:29

Dunia Waspada! Rusia Uji Coba Rudal Sarmat dan Drone Nuklir Poseidon

FOTO: Rusia uji coba rudal saramat yang di klaim mempunyai hulu ledak 4 kali lipat dari rudal barat Dok. Istimewa

JAKARTA, KabarPemerintah.com - Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Barat kembali memanas setelah Moskwa mengumumkan penguatan arsenal nuklir strategisnya. Presiden Rusia, Vladimir Putin, bahkan menyebut rudal balistik antarbenua terbaru negaranya sebagai senjata dengan daya hancur paling kuat di dunia.

Pernyataan itu disampaikan Putin usai Rusia melakukan serangkaian uji coba sistem persenjataan baru, termasuk rudal Sarmat atau yang dijuluki “Satan 2”. Pengujian dilakukan setelah berakhirnya perjanjian pembatasan senjata nuklir strategis antara Rusia dan Amerika Serikat pada Februari 2026.

Sebelumnya, kedua negara terikat dalam perjanjian pengurangan senjata START yang disepakati sejak 1991 dan resmi berlaku pada 1994. Kesepakatan tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir hingga 1.550 unit dan maksimal 700 sistem peluncur strategis.

Kini, setelah perjanjian itu berakhir tanpa kejelasan perpanjangan, Rusia mulai memperlihatkan berbagai teknologi persenjataan mutakhirnya kepada dunia.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Rusia pada Selasa, 12 Mei 2026, Putin mengeklaim rudal Sarmat memiliki kemampuan luar biasa. Ia menyebut kekuatan hulu ledak rudal itu lebih dari empat kali lipat dibandingkan rudal strategis terbaik milik negara-negara Barat.

Putin juga menegaskan rudal tersebut mampu menjangkau target lintas benua, termasuk wilayah Amerika dan Eropa, dengan jarak tempuh yang diklaim mencapai 35.000 kilometer.

“Ini adalah sistem rudal paling kuat di dunia,” ujar Putin dalam pidatonya.

Rudal Sarmat sendiri sempat mengalami penundaan operasional selama bertahun-tahun. Namun kini Moskwa memastikan sistem tersebut siap digunakan sebagai bagian utama kekuatan nuklir strategis Rusia.

Meski demikian, sejumlah analis pertahanan Barat meragukan klaim Kremlin. Mereka menilai Rusia membesar-besarkan kemampuan rudal tersebut untuk kepentingan politik dan efek psikologis global.

Keraguan itu muncul setelah uji coba rudal Sarmat pada September 2024 dilaporkan gagal total. Saat itu rudal meledak di area peluncuran hingga meninggalkan kawah besar di silo penyimpanan.

Tak hanya Sarmat, Rusia juga memperkenalkan sejumlah senjata generasi baru lainnya. Salah satunya rudal hipersonik Avangard yang disebut mampu melaju hingga 27 kali kecepatan suara.

Selain itu, ada rudal hipersonik Oresnik dengan jangkauan sekitar 5.000 kilometer dan kemampuan membawa hulu ledak nuklir.

Di sektor persenjataan laut, Kremlin mengumumkan tahap akhir produksi drone bawah laut Poseidon. Senjata bertenaga nuklir itu dirancang untuk meledak di kawasan pesisir musuh dan memicu gelombang tsunami radioaktif.

Rusia juga terus mengembangkan rudal Burevestnik yang menggunakan tenaga nuklir sebagai sistem penggeraknya.

Sementara itu, televisi pemerintah Rusia melaporkan komandan pasukan rudal strategis, Sergei Karakayev, menyatakan uji coba terbaru rudal Sarmat berjalan sukses.

Menurut Karakayev, kehadiran rudal tersebut akan meningkatkan kemampuan tempur pasukan nuklir Rusia secara signifikan. Ia menyebut sistem itu memiliki daya getar dan kekuatan penghancur yang sangat besar terhadap sasaran strategis.

Sejak perang Rusia-Ukraina pecah pada 2022, Putin memang berulang kali mengingatkan dunia mengenai kekuatan nuklir negaranya. Negara-negara Barat menilai langkah itu sebagai strategi Rusia untuk mencegah campur tangan langsung Eropa maupun NATO dalam konflik Ukraina.

Di sisi lain, peneliti senior pusat perlucutan senjata PBB, Pavel Podvig, menilai pengerahan penuh rudal Sarmat kemungkinan memang bisa terealisasi dalam waktu dekat. Namun ia menilai langkah tersebut tidak akan banyak mengubah keseimbangan kekuatan nuklir global.

Kantor berita Rusia TASS juga melaporkan Kremlin telah memberi pemberitahuan kepada Amerika Serikat terkait peluncuran rudal Sarmat sesuai prosedur komunikasi militer strategis.

Meski Washington dan Moskwa disebut sepakat membuka kembali dialog militer tingkat tinggi pasca berakhirnya perjanjian pembatasan senjata nuklir, hingga kini belum ada sinyal kuat mengenai lahirnya kesepakatan baru antara dua negara adidaya tersebut.

(RBT/MAM)

← Kembali ke Daftar