Logo Kabarpemerintah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.594,77 pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, level terendah dalam lima tahun terakhir. Jika dihitung sejak awal tahun ini sampai 5 Juni 2026, IHSG sudah anjlok 35,3% (year-to-date/ytd).

Dolar Tembus Rp18.000, Ekonomi Indonesia Masuk Zona Waspada?

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 05 Jun 2026 12:30

Dolar Tembus Rp18.000, Ekonomi Indonesia Masuk Zona Waspada?

FOTO: Ilustrasi mata uang rupiah tertekan oleh Dolar Dok. Istimewa

JAKARTA, KabarPemerintah.com – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat. Dolar Amerika Serikat (AS) dikabarkan menembus level Rp18.000, sebuah angka psikologis yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar, dunia usaha, hingga pemerintah.

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS bukan hanya menjadi persoalan di pasar keuangan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan efek berantai terhadap harga barang, biaya produksi industri, hingga daya beli masyarakat.

Pengamat ekonomi menilai penguatan dolar saat ini dipengaruhi sejumlah faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, ketidakpastian ekonomi dunia, hingga meningkatnya permintaan terhadap aset-aset yang dianggap lebih aman oleh investor.

Jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, sektor yang paling cepat merasakan dampaknya adalah industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya impor dapat memaksa pelaku usaha menyesuaikan harga jual produk di dalam negeri.

"Ketika dolar menguat tajam, biaya produksi ikut naik. Pada akhirnya, beban tersebut bisa diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang," ujar seorang analis pasar keuangan.

Selain sektor industri, pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi harga sejumlah komoditas, terutama yang memiliki ketergantungan terhadap transaksi internasional menggunakan dolar AS.

Meski demikian, sejumlah ekonom mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Mereka menilai kondisi nilai tukar sangat dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Pemerintah bersama Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan mengendalikan volatilitas rupiah. Intervensi di pasar valuta asing serta penguatan fundamental ekonomi nasional menjadi instrumen yang kerap digunakan untuk meredam gejolak.

Bagi masyarakat, menguatnya dolar menjadi pengingat penting bahwa kondisi ekonomi global masih memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian nasional. Karena itu, perkembangan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi salah satu indikator yang paling diperhatikan oleh pelaku pasar maupun dunia usaha.

(MAM/RED)

← Kembali ke Daftar