Logo Kabarpemerintah
IHSG ditutup menguat 0,87% atau naik 49,44 poin ke level 5.744,56 pada perdagangan Kamis (2/7/2026). Penguatan ditopang optimisme pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan suku bunga.

Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000, BI Perkuat Langkah Jaga Stabilitas

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 03 Jul 2026 00:16

Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000, BI Perkuat Langkah Jaga Stabilitas

FOTO: Ilustrasi seorang kasir memperlihatkan uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah ke arah kamera, di tengah fluktuasi kurs di pasar keuangan. Dok. Istimewa

JAKARTA, KabarPemerintah.com – Nilai tukar rupiah masih bergerak di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal Juli 2026. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan Bank Indonesia, posisi rupiah pada 2 Juli 2026 berada di kisaran Rp17.994 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000.

Pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan kondisi ekonomi domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan seiring tingginya ketidakpastian ekonomi dunia dan berlanjutnya arus keluar modal dari sejumlah negara berkembang.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi oleh perkembangan indikator ekonomi. Defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 serta kenaikan inflasi tahunan menjadi 3,34 persen pada Juni dinilai menambah tantangan bagi stabilitas nilai tukar.

Untuk meredam gejolak di pasar keuangan, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan. Salah satunya melalui penyesuaian suku bunga acuan yang sebelumnya telah dilakukan guna menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus memperkuat daya tarik aset keuangan domestik di mata investor.

Selain kebijakan suku bunga, bank sentral juga terus melakukan stabilisasi di pasar valuta asing serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional.

Sejumlah pengamat menilai arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter Amerika Serikat, perkembangan ekonomi global, hingga dinamika geopolitik yang terus berubah. Selama tekanan eksternal belum mereda, fluktuasi nilai tukar diperkirakan masih akan berlangsung.

Meski demikian, prospek rupiah dinilai tetap memiliki peluang membaik apabila bauran kebijakan fiskal dan moneter mampu menjaga stabilitas makroekonomi. Dengan fundamental ekonomi yang terus diperkuat, optimisme terhadap pemulihan nilai tukar rupiah masih terbuka dalam beberapa bulan mendatang.

(RSH/MAM)

← Kembali ke Daftar