Di Tengah Ancaman Krisis Ekologis, KNTI Sumenep Bersama Nelayan Petakan Ruang Hidup
Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 28 Sep 2026 14:11
FOTO: Taufiqurrahman Afi Ketua DPD KNTI Sumenep didampingi DPP KNTI Dan Juhairi Anggota DPRD Kabupaten Sumenep bersama masyarakat melakukan pemetaan tenurial nelayan. Dok. KabarPemerintah
SUMENEP, KabarPemerintah.com — Dewan Pimpinan Daerah Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD KNTI) Sumenep menggelar diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pemetaan Partisipatif untuk Penguatan Hak Kelola dan Perlindungan Ruang Hidup Masyarakat Pesisir”yang didampingi Dewan Pengurus Pusat (DPP KNTI) .
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, 27–28 September 2026, di Kampung Tapakerbau, Desa Gersik Putih, Kabupaten Sumenep. Sejumlah perwakilan masyarakat, khususnya nelayan tradisional, ikut terlibat dalam proses diskusi dan pemetaan.
Kegiatan itu juga dihadiri Ahmad Juhairi, S.IP., M.Phil., anggota Fraksi NasDem sekaligus Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sumenep.
Pemetaan dilakukan dengan menggali pengetahuan dan pengalaman masyarakat mengenai wilayah yang selama ini menjadi ruang hidup sekaligus tempat mereka mencari penghidupan.
Warga diajak mengidentifikasi kawasan yang memiliki arti penting bagi aktivitas nelayan, termasuk wilayah mencari ikan dan ruang pesisir yang menopang kehidupan masyarakat setempat.
Bagi KNTI, pemetaan partisipatif bukan sekadar menggambar batas wilayah. Proses tersebut juga menjadi upaya mendokumentasikan hubungan masyarakat nelayan dengan ruang hidup dan wilayah kelola yang selama ini mereka manfaatkan.
Perwakilan DPD KNTI Sumenep, Taufiqurrahman (Afi), mengatakan kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga hak nelayan tradisional atas wilayah tempat mereka bekerja. “Acara ini demi menjaga hak nelayan dalam menjaga teritorial mereka bekerja,” ujar Afi, Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena nelayan memiliki pengetahuan lokal mengenai kondisi wilayah pesisir yang diperoleh dari aktivitas mereka sehari-hari.
Pemetaan Penting bagi Nelayan Tradisional
Ahmad Juhairi, S.IP., M.Phil., menyambut baik kegiatan yang digelar KNTI bersama masyarakat Tapakerbau. Menurutnya, pemetaan partisipatif mengenai wilayah tenurial dan hak-hak nelayan tradisional penting bagi keberlangsungan masyarakat pesisir.
“Saya tentu sangat menyambut baik atas kegiatan yang dilakukan. Kegiatan pemetaan partisipatif tenurial dan hak-hak nelayan tradisional tersebut sangat penting untuk keberlangsungan masyarakat daerah pesisir, khususnya bagi mereka yang bekerja sebagai nelayan,” kata Ahmad Juhairi.
Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sumenep dari Fraksi NasDem itu menilai kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkuat dokumentasi mengenai wilayah yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir di tengah tekanan terhadap lingkungan.
“Dengan kehadiran KNTI melalui kegiatan pemetaan partisipatif ini akan membuat masyarakat tenurial, khususnya nelayan tradisional, tidak akan merasa sendirian dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai warga negara di tengah ancaman dampak krisis ekologis dari aktivitas industrial di wilayah pesisir yang semakin mengkhawatirkan dan semakin eksploitatif,” ujarnya.
Ahmad Juhairi berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat pesisir memiliki ruang untuk terus menyampaikan kondisi dan kebutuhan mereka.
“Saya berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan,” katanya.
Warga Apresiasi Kehadiran KNTI
Kehadiran KNTI di Kampung Tapakerbau mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Warga mengaku senang karena persoalan ruang hidup nelayan tradisional mendapat perhatian.
Ketua RT setempat, Ahmad Sidik, menyampaikan apresiasinya kepada KNTI yang telah datang dan berdiskusi langsung dengan masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih kepada KNTI telah hadir di kampung kecil kami. Kami sangat bahagia masih ada yang peduli dengan ruang hidup nelayan tradisional,” ungkap Ahmad Sidik.
Apresiasi juga disampaikan Ibu Mai, salah seorang warga yang mengikuti kegiatan. “Terima kasih kepada KNTI, karena masih memikirkan nelayan kecil seperti kami,” ucapnya.
Suara Nelayan Jadi Dasar Pemetaan
Selama dua hari, diskusi berlangsung dengan melibatkan masyarakat sebagai sumber utama informasi. Nelayan menyampaikan pengalaman, pengetahuan lokal, serta kondisi yang mereka hadapi dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Informasi tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pemetaan wilayah kelola masyarakat pesisir.
Dengan pendekatan partisipatif, masyarakat tidak sekadar menjadi peserta, tetapi ikut menentukan informasi apa yang perlu dicatat mengenai wilayah mereka.
Bagi nelayan Tapakerbau, kawasan pesisir bukan sekadar hamparan laut dan daratan. Di ruang tersebut mereka bekerja, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, serta mempertahankan kehidupan yang telah berlangsung lintas generasi.
Melalui kegiatan ini, KNTI Sumenep bersama masyarakat berupaya memperkuat dokumentasi mengenai ruang hidup nelayan sekaligus membuka ruang dialog mengenai keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir di tengah berbagai perubahan dan tekanan terhadap kawasan pesisir.
(RSH/MAM)
← Kembali ke Daftar