Logo Kabarpemerintah
Presiden Prabowo Subianto Tegaskan Hilirisasi Jadi Jalan Indonesia Menuju Kemakmuran. Komitmen Pendidikan Nasional, Presiden Prabowo Subianto Targetkan Sekolah Modern dan Berbasis Teknologi Rampung 2028. Dari MBG hingga Koperasi Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto Dorong Arus Ekonomi Kembali ke Rakyat.

Dari Nama Kontroversial hingga Jalan Hijrah, Yakuza Maneges Resmi Lahir di Kediri

Ditulis oleh kabarpemerintah.com - 13 May 2026 04:38

Dari Nama Kontroversial hingga Jalan Hijrah, Yakuza Maneges Resmi Lahir di Kediri

FOTO: Yakuza Maneges, organisasi sosial di Kediri, dibentuk oleh Gus Tugba untuk individu kembali ke jalan yang benar dan mendukung keadilan sosial. Dok. Pemkot Kediri

SURABAYA, KabarPemerintah.com Kemunculan organisasi bernama Yakuza Maneges di Kediri, Jawa Timur, langsung menyita perhatian publik. Nama yang identik dengan kelompok kriminal Jepang itu justru diubah maknanya menjadi gerakan dakwah dan sosial untuk merangkul kaum marginal serta mereka yang ingin memperbaiki diri.

Organisasi tersebut resmi mendeklarasikan diri pada Sabtu (9/5) di Kediri. Sejumlah tokoh agama hingga para gus atau putra kiai turut hadir dalam deklarasi tersebut. Inisiator sekaligus pendiri Yakuza Maneges, Thuba Topo Broto Maneges atau yang akrab disapa Den Gus Thuba, menegaskan bahwa organisasi ini hadir bukan sekadar komunitas biasa.

Menurutnya, Yakuza Maneges dibangun sebagai ruang pembinaan spiritual bagi orang-orang yang pernah berada di jalan kelam namun memiliki tekad untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik. Ia menyebut kelompok itu sebagai rumah bagi “santri jalur kiri”.

“Yakuza Maneges ini bukan hanya tempat berkumpul, tetapi menjadi sarana perubahan dan pengabdian,” ujar Den Gus Thuba dalam pidatonya.

Ia menjelaskan, filosofi nama Yakuza yang dipakai memiliki makna berbeda dari stigma yang selama ini dikenal masyarakat. Dalam versi yang diusung organisasinya, Yakuza dimaknai sebagai perjalanan dari kehidupan yang kelam menuju pribadi yang zuhud dan bermanfaat bagi sesama.

Den Gus Thuba mengatakan, organisasi tersebut membawa misi sosial, kemanusiaan, dan pendampingan masyarakat. Fokus utamanya adalah membantu orang-orang yang pernah terjerumus dalam kemaksiatan atau persoalan sosial agar bisa bangkit dan kembali diterima lingkungan.

Yakuza Maneges juga berada di bawah naungan Majelis Semaan Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin yang didirikan almarhum KH Hamim Jazuli atau Gus Miek. Hal itu disebut menjadi dasar kuat arah gerakan organisasi yang mengedepankan pendekatan spiritual dan budaya kepada kelompok marginal.

Sebagai putra Gus Miek, Den Gus Thuba menilai ajaran sang ayah selama ini memang dikenal dekat dengan masyarakat pinggiran. Karena itu, pendekatan dakwah yang dilakukan Yakuza Maneges disebut akan lebih menekankan pembinaan tanpa menghakimi.

Selain bergerak di bidang dakwah, organisasi tersebut juga menyatakan siap mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan hukum maupun sosial. Den Gus Thuba memastikan Yakuza Maneges tidak berseberangan dengan negara dan justru ingin berjalan bersama aparat penegak hukum.

“Yakuza Maneges hadir untuk mendukung penegakan hukum dan membantu masyarakat yang membutuhkan pendampingan,” tegasnya.

Di sisi lain, organisasi itu juga membawa visi sebagai pengawal moral masyarakat. Mereka mengaku siap mengawal berbagai persoalan sosial, termasuk penyimpangan yang melibatkan pejabat maupun tokoh agama.

Deklarasi Yakuza Maneges turut dihadiri Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati. Ia menilai penggunaan nama “Yakuza” memang terbilang berani, namun memiliki pesan dakwah yang kuat di baliknya.

Menurut Vinanda, langkah yang dilakukan Den Gus Thuba sejalan dengan perjuangan dakwah Gus Miek yang selama hidup dikenal merangkul siapa saja tanpa memandang latar belakang. Ia berharap organisasi tersebut mampu membawa energi positif bagi masyarakat Kediri dan sekitarnya.

“Semoga menjadi awal yang baik untuk terus menjaga kebersamaan dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

(MAM/YD)

← Kembali ke Daftar