Catatan Akhir Tahun 2025: Potret Buram Puskesmas Bluto, Publik Mendesak Bupati Evaluasi Total Dinkes Sumenep
Ditulis oleh KabarPemerintah.com - 08 Dec 2025 05:15
FOTO: Kantor Dinas Kesehatan P2KB Kab. Sumenep Dok. Suara merdeka jatim
SUMENEP, KabarPemerintah.com — Menjelang tutup tahun 2025, sorotan tajam mengarah pada Puskesmas Bluto, Sumenep. Dua peristiwa berbeda yang terjadi di fasilitas kesehatan tersebut dianggap mencoreng kualitas pelayanan kesehatan di ujung timur Pulau Madura. Bukan kasus anggaran atau penyalahgunaan jabatan, melainkan persoalan moral dan dugaan kelalaian medis yang berujung pada hilangnya nyawa seorang pasien.
Skandal Asusila Oknum Bidan Gegerkan Publik
Kasus pertama mencuat pada 2 Mei 2025. Nama seorang bidan berinisial YS mendadak ramai diperbincangkan setelah dilaporkan digerebek suaminya bersama pria lain di sebuah rumah kontrakan di Kecamatan Bluto. Informasi itu turut diberitakan oleh Memoonline.co.id.
Dalam laporan tersebut, hubungan terlarang YS diduga telah berlangsung lama, bahkan disebut-sebut sudah terjadi sejak 2012. Tak pelak, publik menilai skandal ini bukan kali pertama mencoreng nama baik tenaga kesehatan yang bersangkutan.
Kepala Puskesmas Bluto, dr. Rifmi Utami, memastikan pihaknya telah memanggil YS untuk diperiksa. “Kami sudah meminta klarifikasi dan membuat berita acara pemeriksaan. Selanjutnya kami teruskan ke Dinkes,” ujar dr. Rifmi sebagaimana dilansir dari Memoonline.
Pasien Meninggal Saat Menunggu Rujukan, Warga Gelisah
Belum reda persoalan tersebut, kasus kedua menyusul. Seorang pasien berinisial H meninggal dunia pada 24 November 2025 di Puskesmas Bluto. Keluarga menilai kematian H tak lepas dari dugaan kelalaian medis.
Menurut penuturan keluarga, H seharusnya dirujuk ke rumah sakit sekitar pukul 08.00 WIB. Namun hingga lewat pukul 11.00 WIB, pasien disebut masih belum dipindahkan. Dugaan makin menguat lantaran keluarga juga menyebut tabung oksigen sempat kosong saat pasien mengalami sesak napas.
Tak hanya soal penanganan medis, keluarga juga menyoroti sikap sejumlah petugas yang dinilai kasar dan kurang empatik saat memberikan layanan.
Peristiwa tersebut memicu reaksi publik. Warga bersama keluarga melakukan dua kali audiensi dengan Dinas Kesehatan P2KB Sumenep, didampingi LBH Taretan Legal Justitia. Sejumlah mahasiswa dari GMNI Sumenep juga ikut mengawal kasus tersebut secara swadaya.
“Kami akan terus mengawal sampai ada titik terang. Kami minta bupati tegas terhadap siapa pun yang bertanggung jawab,” tegas Direktur LBH Taretan Legal Justitia, Zainorrozi.
Dinkes Klaim Penanganan Sudah Sesuai SOP
Kabid Pelayanan Dinkes P2KB Sumenep, Siti Khairiyah, menyebut penanganan pasien H telah sesuai SOP. Ia menjelaskan respon time di IGD sudah berjalan sesuai standar.
“Kami pastikan pasien sudah ditangani kurang dari lima menit sejak masuk IGD,” ujarnya.
Senada, Kepala Dinkes Sumenep drg. Ellya Fardasah menyampaikan pihaknya tengah melakukan audit menyeluruh dan hasilnya akan disampaikan langsung kepada Bupati Sumenep.
Desakan Pemecatan Mencuat, Tagline “Sumenep Melayani” Dipertanyakan
Dua kasus yang mencoreng wajah Puskesmas Bluto ini dinilai sejumlah pihak telah menodai komitmen pelayanan publik yang selama ini digencarkan Bupati Sumenep lewat slogan Sumenep Melayani. Dampaknya, muncul tuntutan tegas agar Bupati Achmad Fauzi mengevaluasi total jajaran Dinas Kesehatan.
Zainurrozi dari LBH TLJ secara terbuka meminta Bupati memecat Kepala Dinkes P2KB drg. Ellya Fardasah dan Kepala Puskesmas Bluto dr. Rifmi Utami.
“Keduanya sudah tidak layak memimpin. Ada unsur kelalaian dan kegagalan pengawasan yang berujung hilangnya nyawa pasien,” tegasnya.
Ia menyebut kasus ini menjadi preseden buruk dalam dunia kesehatan selama kepemimpinan Bupati saat ini. Bahkan, ia menilai slogan Sumenep Melayani seolah hanya menjadi “hiasan” tanpa implementasi nyata.
“Petugas kasar, rujukan lambat, pasien kritis tak ditangani optimal. Kami menunggu apakah Bupati berani bertindak atau tidak,” pungkasnya.
(MAM/FS)
← Kembali ke Daftar